ilustrasi bom meledak di gedung Mitsubisi. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

30 Agustus 1974, Bom 45 Kg Teroris Amatir Tewaskan 8 Warga Jepang

Estimasi Baca:
Kamis, 30 Ags 2018 06:00:38 WIB

Kriminologi.id - Bom meledak di lobby Kantor Pusat Industri Berat Mitsubishi yang terletak di Otemachi-Marunouchi, Jepang pada 30 Agustus 1974. Bom waktu itu diletakkan di lobby kantor dan meledak saat jam makan siang. Akibatnya delapan tewas dan 376 orang terluka.

Pengeboman di kantor Mitsubishi dinilai sebagai aksi terorisme yang masih amatir. Pelaku menggunakan terlalu banyak bahan peledak dan diracik secara tergesa-gesa. Ada sekitar 45 kilogram bahan peledak yang digunakan sebagai bahan dasar bom tersebut. Aksi terorisme ini serupa dengan percobaan pengeboman kereta Kaisar Jepang pada awal bulan yang ternyata gagal.

Terlalu banyaknya bahan peledak yang digunakan memang menyebabkan ledakan yang cukup besar. Jendela-jendela pecah dan potongan kaca terjatuh mengenai para pejalan kaki yang melintas di luar gedung tersebut.

Salah seorang anggota kelompok teroris yang mengaku bertanggung jawab atas pengeboman tersebut, sempat menghubungi kantor Mitsubishi untuk memperingatkan adanya bom. Namun jeda waktunya begitu cepat sehingga bom meledak terlebih dahulu sebelum ditemukan.

Penyelidikan kepolisian menyimpulkan kelompok yang bertanggung jawab atas pengeboman tersebut adalah Higashi Ajia Hannichi Buso Sensen atau The East Asia Anti-Japan Armed Front (EAAJF). Kelompok ini dikategorikan sebagai aliran kiri di Jepang walaupun secara ideologi dan metode aksinya sangat berbeda dengan kelompok kiri radikal lainnya.

Anggota EEAJF yang bernama Masashi Daidoji dan Toshiaki Masunaga ditangkap pada 19 Mei 1975 dan dianggap bertanggung jawab terhadap pengeboman tersebut. Walaupun telah mengajukan beberapa kali permohonan banding ke pengadilan, namun akhirnya Mahkamah Agung Jepang menjatuhkan hukuman mati kepada keduanya pada 1987. Selain Masashi Daidoji dan Toshiaki Masunaga, ada enam anggota EAAJF lainnya yang turut ditangkap dan dihukum karena keterlibatannya dalam aksi pengeboman tersebut.

Seperti yang dilansir dari japantimes.co.jp, Masashi Daidoji dan Toshiaki Masunaga juga mengajukan permohonan kompensasi kepada negara karena pada 2004 mereka mengatakan rumah tahanan di Tokyo tidak mengizinkan mereka untuk menerima surat, uang tunai, dan kiriman lainnya dari keluarga atau kerabat yang menjenguk.

Menanggapi hal tersebut, pengadilan distrik mengabulkan permohonan kompensasi keduanya karena memang dapat dibuktikan rumah tahanan melarang. Padahal seharusnya ini adalah hak masing-masing narapidana yang ada di Tokyo. Atas kesalahan tersebut, pengadilan distrik memerintahkan negara untuk membayarkan dana senilai 10 ribu yen kepada masing-masing orang.

KOMENTAR
500/500