Ilustrasi penyanderaan. Ilustrasi: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

4 Agustus 1975, Komunis Jepang Sandera 53 Orang di AIA Malaysia

Estimasi Baca:
Sabtu, 4 Ags 2018 06:05:37 WIB

Kriminologi.id - Pada 4 Agustus 1975, kelompok teroris yang memiliki paham komunis asal Jepang menyandera 53 orang di Gedung American Insurance Associates (AIA) yang terletak di Jalan Ampang, Kuala Lumpur, Malaysia. Para pelaku berjumlah lima orang menyatakan diri sebagai anggota kelompok Japanese Red Army atau JRA.

Para sandera terdiri dari para pekerja AIA yang mayoritas adalah warga negara Malaysia dan beberapa duta besar negara lain. Termasuk duta besar Amerika Serikat, duta besar Swedia, dan beberapa orang warga negara Australia.

JRA merupakan kelompok komunis bersenjata yang didirikan Fusako Shigenobu pada awal 1971 di Lebanon. Pendirian JRA bertujuan untuk menggulingkan pemerintahan Jepang yang menganut monarki konstitusional. Selain itu, JRA juga bertujuan untuk melakukan revolusi dunia.

Sebelumnya, JRA memang terlibat dalam beberapa serangan, baik di Jepang maupun di negara-negara lainnya, seperti di Israel dan Yaman. Termasuk serangan geranat di Bandara Lod Israel yang menewaskan 26 orang dan melukai 80 orang.

Para pelaku akhirnya membuka komunikasi dengan para petugas melalui selembar kertas. Para pelaku menuntut agar Pemerintahan Jepang membebaskan anggota JRA yang ditahan. Mereka mengancam akan melukai para sandera jika tuntutan mereka tidak dipenuhi.

Pihak kepolisian Malaysia akhirnya melakukan negosiasi dengan para pelaku. Seperti dilansir huffingtonpost.com, negosiasi dilakukan staf kementerian luar negeri Amerika Serikat, Dick Jackson melalui sambungan telepon internal gedung. Jackson menekankan tidak bisa mengambil kebijakan apapun, namun ia berjanji akan meneruskan permintaan para pelaku kepada pihak-pihak terkait. Penyanderaan terjadi selama empat hari dan selama itulah negosiasi terus dilakukan.

Akhirnya setelah melalui negosiasi yang panjang, pemerintah Jepang sepakat untuk membebaskan lima pimpinan JRA yang ditahan. Mereka diterbangkan dari Jepang ke Kuala Lumpur dengan menggunakan pesawat Japanese Airlines DC-8.

Setelah tiba di Kuala Lumpur, kelima pemimpin JRA ditukarkan dengan para sandera pada 8 Agustus 1975. Tidak ada korban tewas dalam peristiwa penyanderaan ini, namun ada empat sandera yang sakit dan terluka karena penahanan selama empat hari.

Setelah para sandera ditukar, para pelaku dan para pemimpin JRA yang dibebaskan menuntut disediakan pesawat untuk pergi dari Kuala Lumpur. Permasalahannya kemudian, hampir tidak ada negara yang mau mengizinkan pesawat tersebut mendarat di negaranya.

Kementerian Malaysia terus berusaha keras mencarikan negara yang mau memberikan perlindungan terhadap para pelaku. Walaupun sempat menolak, Libya akhirnya mengizinkan pesawat tersebut mendarat di negaranya.

KOMENTAR
500/500