Ilustrasi Ledakan Bom. Foto: Pixabay.com

6 Agustus 2015, Bom Bunuh Diri Guncang Masjid di Markas Polisi Arab

Estimasi Baca:
Senin, 6 Ags 2018 05:05:10 WIB

Kriminologi.id - Seorang pemuda berusia 21 tahun bernama Yussef bin Suleiman bin Abdullah al-Suleiman meledakkan dirinya di dalam masjid pada 6 Agustus 2015. Yussef menggunakan rompi yang telah dipasangi bom dan meledakkannya di masjid kota Abha, Arab Saudi dan menewaskan 15 orang.

Seperti yang dilansir dari Aljazeera.com, masjid yang dijadikan target adalah masjid yang terletak di dalam markas polisi. Bom meledak saat para polisi tersebut sedang menjalankan salat zuhur. Korban tewas terdiri dari 11 orang anggota polisi dan empat lainnya masyarakat biasa, sedangkan sembilan lainnya mengalami luka-luka.

Yussef al-Suleiman merupakan warga negara Arab Saudi yang sebelumnya pernah ditahan polisi. Yussef al Suleiman ditangkap dua tahun lalu karena ikut berpartisipasi dalam aksi demonstrasi di Kota Buraida. Tuntutan aksi para demonstran adalah pembebasan para tahanan. Setelah 45 hari ditahan dan dilakukan penyelidikan oleh kepolisian, Yussef al-Suleiman akhirnya dibebaskan karena dianggap tidak bersalah pada aksi tersebut.

Kelompok Islamic State of Iraq and The Levant (ISIL) melalui akun Twitter-nya menyatakan kelompok mereka telah melancarkan serangan ke markas militer yang terletak di Provinsi Asir, namun mereka tidak menyebutkan meledakkan masjid. Kota Abha memang terletak di provinsi Asir sehingga serangan di dalam masjid dianggap sebagai serangan yang didalangi ISIL. Walaupun informasi tersebut tidak dapat diklarifikasi, namun pemerintah dan masyarakat percaya serangan bom masjid tersebut adalah ulah ISIL.

Saat beraksi, pelaku berhasil melewati pos pemeriksaan dan meledakkan bom bunuh diri. Serangan bom bunuh diri ini termasuk dalam sejarah buruk serangan teroris di Arab Saudi. Apalagi lokasi kejadiannya adalah markas militer, pemerintah Arab Saudi seperti disadarkan sistem keamanan yang mereka terapkan selama ini masih memiliki kekurangan.

Sebelumnya, terjadi dua peristiwa bom bunuh diri yang terjadi di masjid Arab Saudi. Pertama adalah bom bunuh diri yang terjadi Qatif dan menewaskan 21 orang, sedangkan bom kedua terjadi di Dammam dan menewaskan empat orang.

Melihat rentetan peristiwa bom bunuh diri tersebut, pemerintah Arab Saudi melakukan penangkapan besar-besaran. Dalam beberapa bulan, mereka menangkap ratusan orang yang dianggap terlibat perencanaan aksi pengeboman, penyebaran paham dan ideologi radikal, juga orang-orang yang dianggap memberikan dukungan terhadap kelompok-kelompok maupun organisasi teroris.

Selain melakukan penangkapan, pemerintah Arab Saudi juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk turut melakukan pencegahan terhadap meluasnya ideologi dan paham islam radikal yang berpotensi menjerumuskan diri sendiri ataupun anggota keluarganya ke dalam kelompok maupun jaringan teroris. Penyebaran ideologi dan paham radikal lebih banyak dilakukan melalui internet baik melalui website mapun melalui media sosial, oleh karena itu masyarakat juga diharapkan dapat berperan aktif mencegah terjadinya serangan bom di Arab Saudi.

KOMENTAR
500/500