Ilustrasi ledakan di rumah sakit. Ilustrasi: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

8 Agustus 2016, Bom Bunuh Diri di RS Pakistan Tewaskan 74 Orang

Estimasi Baca:
Rabu, 8 Ags 2018 07:00:20 WIB

Kriminologi.id - Teroris menyerang sebuah rumah sakit pemerintah Pakistan di wilayah Quetta pada 8 Agustus 2016. Serangan itu awalnya berupa tembakan membabi buta yang dilakukan pelaku sambil bergerak masuk ke rumah sakit. Setelah itu pelaku meledakkan diri dengan bom yang ada diikat di pinggang. Tindakan ini mendapatkan kecaman dari berbagai pihak karena dianggap tidak memiliki sisi humanis, sebab penyerangan dilakukan di dalam rumah sakit.

Seperti yang dilansir dari dunyanews.tv, jumlah korban tewas akibat serangan tersebut setidaknya ada 74 orang, 54 di antaranya berprofesi sebagai pengacara. Begitu banyaknya pengacara yang berada di lokasi kejadian disebabkan karena sebelumnya seorang pengacara bernama Bilal Anwar Kasi yang menjabat sebagai Ketua Balochistan Bar Association ditembak hingga tewas orang tidak dikenal. Mayat Bilal dibawa ke rumah sakit di wilayah Quetta, sehingga teman, kerabat, dan koleganya sesama pengacara mendatangi rumah sakit tersebut.

Selain para pengacara, serangan tersebut juga menewaskan dua jurnalis bernama Shehzad Ahmed dari Aaj News dan Mehmood Khan dari DawnNews yang sedang bertugas meliput pemberitaan tentang Bilal Anwar. Seorang jurnalis AFP yang berdiri sekitar 20 meter dari tempat ledakan berhasil selamat walaupun terluka parah.

Ada beberapa kelompok teroris yang mengklaim bertanggung jawab atas ledakan tersebut. Pertama adalah kelompok Jamat-ul-Ahrar, seperti yang dilansir dari theguardian.com. Kelompok tersebut mengirimkan email kepada seorang jurnalis bahwa mereka akan melanjutkan serangan-serangan kepada Pakistan hingga negara tersebut menerapkan sistem hukum Islam di seluruh kota-kotanya. Kelompok Jamat-ul-Ahrar adalah faksi pecahan kelompok Tehreek-e-Taliban Pakistan yang berafiliasi pada kelompok radikal Afghanistan.

Sedangkan kelompok kedua yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut adalah kelompok Islamic State of Iraq and Syria atau ISIS. Melalui medianya yang bernama Amaq News Agency, ISIS mengklaim penyerangan tersebut dengan menyatakan, pelaku merupakan anggota kelompoknya. Penyelidikan kepolisian memang menemukan bom seberat 8 hingga 9 kilogram itu diletakkan diikat pinggang pelaku.

Pemerintah Pakistan menetapkan hari berkabung tiga hari setelah kejadian. Kebijakan tersebut diambil untuk menghormati para korban yang tewas. Selain itu, pemerintah Pakistan juga menyiapkan kompensasi bagi anggota keluarga yang tewas sebesar Rs 10 juta atau sekitar Rp 2 miliar.

Sedangkan untuk korban yang menderita luka parah dan mengakibatkan cacat permanen mendapatkan kompensasi sebesar Rs 5 juta atau sekitar Rp 1 miliar. Seluruh biaya perawatan rumah sakit bagi para korban akan ditanggung pemerintah Pakistan.

KOMENTAR
500/500