Ilustrasi pengeboman di Kedubes Australia. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

9 September 2004, Bom Meledak di Kedubes Australia Tewaskan 9 Orang

Estimasi Baca:
Minggu, 9 Sep 2018 05:00:25 WIB

Kriminologi.id - Bom meledak di depan Kedutaan Besar Australia yang terletak di kawasan Kuningan pada 9 September 2004 . Bom meledak sekitar pukul 10.15 WIB dan mengakibatkan setidaknya 9 orang tewas dan sekitar 160 orang menderita luka-luka.

Ledakan tersebut begitu besar hingga mengakibatkan kaca-kaca gedung Kedubes Australia hancur dan gedung-gedung di dekat gedung kedubes tersebut juga mengalami kerusakan. Bom yang meledak di Kedubes Australia ini ditengarai sebagai salah satu aksi terorisme yang dilakukan oleh kelompok teroris yang ada di Indonesia.

Peristiwa yang disebut juga dengan peristiwa bom Kuningan itu merupakan bom terbesar ketiga yang terjadi di Indonesia setelah Bom Bali tahun 2002 dan Bom JW Marriott pada tahun 2003.

Melalui rekaman CCTV Plaza 89 diketahui bahwa ledakan berasal dari mobil boks Daihatsu Zebra berwarna putih dengan nomor polisi B 9065 H. Polisi menduga pelakunya adalah anggota kelompok teroris Jemaah Islamiyah yang dipimpin oleh Abu Bakar Baasyir dan beroperasi di Indonesia.

Berdasarkan hasil investigasi dan pengecekan asam deoksiribonukleat atau tes DNA terhadap 117 potongan tubuh manusia yang tercecer di depan gedung tersebut, polisi menemukan bahwa DNA tersebut cocok dengan salah satu warga negara Indonesia yang bernama Heri Kurniawan.

Polisi menduga Heri Kurniawan atau Heri Golun inilah yang menjadi pelaku peledakan bom di depan gedung Kedubes Australia. Heri Kurniawan tercatat sebagai warga Sukabumi, Jawa Barat. Penyelidikan lebih lanjut polisi justru menemukan adanya keterlibatan Dr. Azhari sebagai otak dari peledakan bom tersebut.

Selain keduanya, polisi juga menangkap beberapa pelaku lain yang dianggap terlibat yaitu Iwan Darmawan alias Rois, Hasan alias Purnomo alias Agung, Apuy alias Ramdani alias Syaiful Bahri, dan Sogir alias Anshori alias Abdul Fatah. Semua pelaku ditangkap pada 5 November 2004 di Kampung Kaum Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Keempat pelaku yang ditangkap dijatuhi vonis hukuman mati atas perannya membantu merencanakan pengeboman tersebut. Iwan Darmawan alias Rois mendapatkan putusan tersebut dalam pengadilan yang diselenggarakan pada 13 September 2005. Sedangkan tiga pelaku lainnya divonis pada 14 September 2005.

Sedangkan Dr. Azhari yang disebut sebagai otak pengeboman tersebut tewas dalam penyergapan yang dilakukan polisi di Batu, Malang pada 9 November 2005. Tewasnya Azhari mendapatkan tanggapan positif dari pihak Australia. Bahkan Perdana Menteri Australia saat itu yaitu John Howard mengatakan bahwa hal tersebut adalah kabar yang menggembirakan sekaligus memberikan apresiasi pada kepolisian Indonesia yang telah tuntas menyelesaikan kasus pengeboman tersebut.

Para korban selamat dari peristiwa bom kuningan pada tahun 2004 itu juga beberapa kali menggelar peringatan atas peristiwa tersebut. Hal ini dimaksudkan agar mengingatkan masyarakat akan dampak aksi terorisme sehingga tidak ada lagi masyarakat yang termakan bujuk rayu kelompok teroris dan melakukan pengeboman di Indonesia.

KOMENTAR
500/500