Mahasiswi baru Universitas Negeri Riau saat pembacaan deklarasi lawan faham radikalisme, terorisme di kampusnya (27/082018). Foto: Damailahindonesiaku.com

BNPT Ingatkan Ancaman Narasi Teroris pada Mahasiswa Baru

Estimasi Baca:
Selasa, 28 Ags 2018 09:30:17 WIB

Kriminologi.id - Mahasiswa baru diminta untuk mewaspadai propaganda teroris yang dibungkus dengan dalil agama. Narasi kelompok teror yang biasa disebarkan ini sangat  berbahaya dan bisa merusak pola pikir mahasiswa jika tak segera dicegah, kata Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Ir. Hamli, ME dalam kegiatan Public Lecture Pencegahan Paham Radikal Terorisme di Universitas Negeri Riau (UNRI), Senin, 27 Agustus 2018. 
  
Hamli mengajak mahasiswa baru untuk mewaspadai lima narasi berbahaya yang disebarkan kelompok radikal. Lima narasi yang disebar kelompok teror ini adalah narasi terzalimi, takfiri, thogut, nasionalisme haram dan Pancasila itu berhala. 

Narasi seperti ini sengaja mereka lakukan untuk merusak pola pikir generasi bangsa untuk membenci negaranya.

Adapun pola yang mereka gunakan untuk menyebarkan faham radikal di kalangan kampus, menurut Hamli, dengan cara mendompleng kegiatan mahasiswa.

Kegiatan mahasiswa ini jarang dimonitor oleh pihak kampus sehingga mereka melakukan doktrinasi dan rekrutmen terhadap mahasiswa.

"Saya menghimbau kepada pihak Rektorat untuk mendampingi kegiatan mahasiswa karena banyak kejadian kelompok ini (teror) menginfiltrasi melalui kegiatan-kegiatan mahasiswa di lingkungan kampus.” Imbuh Hamli.

Selain itu, kata Hamli, metode lain dari kelompok teror yang patut menjadi perhatian mahasiswa adalah penggunaan media sosial. Di ruang tanpa batas bahkan tanpa aturan ini proses radikalisasi mudah terjadi melalui penyebaran narasi kelompok di dunia maya.

Yudi Zulfahri, mantan teroris yang pernah ditangkap dalam kasus pelatihan kelompok teror di Aceh, memberikan pengalamannya.

Dalam testimoninya ia mengajak mahasiswa baru UNRI untuk tidak mengikuti jejaknya untuk bergabung dalam jaringan teror.

“Saya lulusan IPDN sebagai salah satu kampus favorit dan telah menjadi PNS di Aceh, tetapi pada akhirnya saya malah tergiur dengan ajakan kelompok teroris.” ungkap Yudi.

Pria kelahiran Aceh ini menghimbau mahasiswa baru untuk berhati-hati dalam setiap aktifitas di lingkungan kampus yang mengarah pada paham radikal.

Biasanya mereka selalu mengembangkan paham kekerasan, tertutup, selalu menyalahkan yang berbeda dan fanatis terhadap kelompoknya.

Redaktur: Syahrul Munir
KOMENTAR
500/500