Ilustrasi radikalisme di dunia pendidikan. Ilustrasi: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Empat Teroris Anak Buah Santoso Tertangkap, Simpan Bahan Peledak 15 Kg

Estimasi Baca:
Sabtu, 11 Ags 2018 13:50:51 WIB

Kriminologi.id - Tim Densus 88 Polri menangkap empat orang teroris anggota jaringan Santoso di Sulawesi Selatan. Barang bukti bahan peledak seberat 15 kilogram ikut disita dalam penangkapan itu.

"Hari Jumat (10 Agustus 2018) itu anggota Densus 88 Antiteror bersama anggota Densus di Polda Sulsel serta Polres Bone dan Luwu Timur bersama-sama mengamankan empat jaringan teroris," kata Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani di Makassar, Sabtu, 11 Agustus 2018.

Dicky menjelaskan, keempat pelaku terorisme itu diringkus di dua lokasi berbeda. Dua orang diringkus di Kabupaten Luwu Timur berinisial B dan M, sementara dua lagi diringkus di Kabupaten Bone berinisial R dan I.

"Keempatnya jaringan teroris Santoso," katanya.

Dicky mengatakan, bahan peledak seberat 15 kilogram menjadi barang bukti yang diamankan tim gabungan saat menangkap keempat orang tersebut. Bahan peledak itu disimpan di antara pupuk urea untuk mengelabui polisi dan masyarakat.

"Ini bahan peledak mau digunakan untuk meledakkan beberapa tempat di Indonesia," katanya.

Dicky mengatakan, keempat anggota jaringan teroris Santoso itu akan dibawa tim Densus 88 ke Mabes Polri untuk dilakukan penanganan lebih lanjut.

"Mereka anggota aktif dan terlibat dalam beberapa aksi sejak tahun 2010," kata Dicky.

Dicky menjelaskan, keempat orang yang ditangkap ini pernah aktif bersama Santoso di wilayah pegunungan Sulawesi Tengah.

Santoso adalah pemimpin kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Ia tewas dalam Operasi Tinombala pada Juli 2016.

Namun pemerintah tetap memperpanjang operasi tersebut untuk memburu pengikut Santoso yang diduga masih bertahan di wilayah pegunungan di Sulawesi Tengah.

"Santoso punya banyak anggota aktif. Ini merupakan pendukung, sedangkan simpatisan adalah warga setempat. Yang ditangkap ini pendukung," tutupnya.

Redaktur: Reza Yunanto
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500