Ilustrasi radikalisme. Ilustrasi: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Pola Perekrutan Kader Pelaku Terorisme Kerap Melibatkan Ustaz

Estimasi Baca:
Selasa, 11 Sep 2018 08:00:10 WIB

Kriminologi.id - Pola perekrutan anggota atau kader yang diproyeksikan untuk melakukan aksi terorisme di Indonesia mengalami perubahan sekaligus perkembangan. Salah satu cara yang dilakukan adalah melibatkan ustaz. Para ustaz yang terlibat tersebut biasanya para tokoh kelompok Islam dari Jamaah Islamiyah dan Jamaah Ansharut Tauhid. 

“Sumber-sumber rekrutmen kader melibatkan ustaz yang terindikasi sebagai tokoh Jamaah Islamiyah (JI) dan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT). Serta persinggungan individu yang satu sisi tokoh Islam radikal tetapi juga bersinggungan,” kata Sekretaris Kesbanglimas Jateng, Suwondo, di Solo, Jawa Tengah, 10 September 2018.

Dari sekian banyak kasus terorisme di Indonesia, menurut Suwondo, menunjukkan jaringan para pelaku teror mengalami perkembangan dari pola satu ke pola lainnya. Hal ini dapat dilihat dari beberapa indikasi penyebaran terorisme seperti kesamaan agenda dan perjuangan.

Suwondo mengungkapkan, Kota Solo, Jawa Tengah, disebut sebagai salah satu dari 12 daerah lain yang masuk dalam zona merah penyebaran radikalisme dan terorisme di Indonesia. Alasannya, karena sejumlah kasus terorisme yang terjadi di Indonesia, baik pelaku atau pun korbannya berasal dari Solo.

Menurut Suwondo, banyak organisasi disinyalir menganut paham tersebut dan berkembang di Jateng, salah satunya Solo yang diketahui masuk zona merah penyebaran radikalisme dan terorisme. Sementara daerah yang masuk zona kuning antara lain Banjarnegara dan Banyumas. Selanjutnya wilayah Kedu dideteksi ada embrio yang berkembang.

“Oleh karena itu, Solo diperlukan perhatian khusus agar radikalisme dan terorisme dapat diantisipasi. Misalnya, mewujudkan kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat, komunikasi serta koordinasi yang baik antar stakeholder,” kata Suwondo.

Menurut Kepala Seksi Partisipasi Masyarakat Badan Nasional Pencegahan Terorisme Letkol Laut Setyo Pranowo, menyatakan pihaknya terus memberikan pemahaman terhadap masyarakat untuk mengantisipasi berkembangnya terorisme di masyarakat.

Selain itu, pihaknya juga melakukan kerja sama dengan 36 kementerian dan lembaga pemerintah untuk mencegah munculnya paham tersebut di masyarakat.

Penulis: Tito Dirhantoro
Redaktur: Reza Yunanto
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500