Suasana di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan saat sidang tuntutan terdakwa kasus terorisme Aman Abdurrahman alias Oman Rachman, Jumat (18/05/2018). Foto: M. Adam Isnan/Kriminologi.id

Sidang Tuntutan Aman Abdurrahman, Ketatnya Pengamanan PN Jaksel

Estimasi Baca:
Jumat, 18 Mei 2018 10:47:18 WIB

Kriminologi.id - Penjagaan ketat di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat, 18 Mei 2018, dilakukan pihak kepolisian terkait sidang terdakwa kasus bom Thamrin Aman Abdurrahman dengan agenda pembacaan tuntutan. 

Pantauan Kriminologi.id, sejumlah pasukan pengamanan yang terdiri dari pasukan Brimob berseragam hitam lengkap dengan senjata laras panjang. Selain itu aparat yang berjaga di lokasi pengadilan juga dibantu oleh personel TNI.

Selain itu, penjagaan ketat juga terpantau di dalam pengadilan yang dilakukan oleh personel polisi bersenjata berlaras panjang lengkap dengan rompi anti peluru.

Para awak media pun harus menunggu beberapa saat untuk bisa masuk ke dalam gedung pengadilan karena sangat ketatnya penjagaan. Setelah diperbolehkan masuk, awak media juga dilakukan oleh pengecekan kembali oleh beberapa Polwan yang berada di dalam halaman PN Jaksel.

Sementara di gedung utama ruang sidang, tiga sisi pintu ruangan pun tak luput dari penjagaan ketat oleh sejumlah polisi. Di depan pintu utama ruang sidang sebelah barat tampak dua orang petugas brimob berseragam lengkap sekaligus dengan senjata laras panjang. 

Sementara di sisi pintu ruang sidang sebelah utara dan selatan dijaga oleh puluhan anggota namun tak dilengkapi dengan senjata laras panjang.

Aman Abdurrahman merupakan orang yang berpengaruh di kelompok Jamaah Ansharut Tauhid (JAD). Sebelum terjerat kasus ini, Aman pernah dipidana dalam perkara bom Cimanggis dan pelatihan teroris di Aceh.

Menjelang tuntutan dirinya, sejumlah teror bom terjadi yang dimulai dari kerusuhan narapidana teroris di Rutan Cabang Salemba di Mako Brimob, teror Bom Surabaya, dan penyerangan Kantor Polda Riau yang dilakukan anggota JAD yang didirikan Aman Abdurrahman. AS

Reporter: Muhammad Adam Isnan
Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500