Ilustrasi radikalisme. ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Solo Masuk Daftar Zona Merah Penyebaran Radikalisme dan Terorisme

Estimasi Baca:
Senin, 10 Sep 2018 23:05:05 WIB

Kriminologi.id - Wilayah Solo, Jawa Tengah dinilai menjadi salah satu dari 12 daerah yang masuk zona merah penyebaran radikalisme dan terorisme di Indonesia. Solo diperlukan perhatian khusus agar radikalisme dan terorisme dapat diantisipasi.

Sekretaris Kesejateraan Pembangunan dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglimas) Jawa Tengah, Suwondo, mengatakan Solo masuk dalam zona merah karena sejumlah kasus terorisme yang terjadi di Indonesia, baik pelaku maupun korban berasal dari Jateng khususnya Solo dan sekitarnya.

Dalam acara Saring Sebelum Sharing Literasi Digital Sebagai Upaya Pencegahan Radikalisme dan Terorisme di Masyarakat, di Solo, Senin, 10 September 2018, Suwondo mengatakan banyak organisasi disinyalir menganut paham tersebut dan berkembang di Jateng.

Menurut Suwondo, jaringan terorisme dari sekian banyak kasus terorisme di Indonesia telah mengalami perubahan dan perkembangan dari pola satu ke lainnya. Hal ini, dapat dilihat dari beberapa indikasi penyebaran terorisme, seperti kesamaan agenda dan perjuangan.

Sementara itu Budiyanto, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Jateng mengatakan adanya internet, informasi begitu cepat sampai semua orang, terbukti revolusi industri reformasi cepat dan dahsyat perkembangannya. 

Hal tersebut sering dimanfaatkan kelompok radikalisme misal rekrutmen, aksi teror, menyebarkan informasi yang tidak benar.

"Polri seperti Densus 88 tugasnya penindakan. Jika masyarakat luas dan FKPT pencegahan." katanya.

Selain itu, Wakil Dewan Pers Jimmy Silalahi menyampaikan masyarakat harus dapat membedakan antara informasi dengan berita. 

Menurut Jimmy informasi yang berkembang di media sosial yakni potongan pesan atau kumpulan pesan awal yang disampaikan seseorang dan diterima oleh seseorang atau institusi media, sedangkan berita atau media informasi yakni kumpulan info media yang disampaikan kepada publik yang telah dicek kebenarannya dan diverifikasi oleh wartawan.

"Masyarakat bisa mengecek kebenarannya dengan informasi yang berkembang di medsos atau hanya sekedar hoaks saja. Hal ini, yang sering dimanfaatkan oleh kelompok radikalisme untuk membuat ketakutan dan sebagainya," katanya.

Redaktur: Achmad Sakirin
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500