Ilustrasi Teroris. ilustrasi: Freepik

Timbun 15 Kg Bahan Peledak, Anak Buah Teroris Santoso Siapkan Serangan

Estimasi Baca:
Sabtu, 11 Ags 2018 21:35:34 WIB

Kriminologi.id - Tim Densus 88 Polri menemukan bahan peledak seberat 15 kilogram saat menangkap 4 orang anggota jaringan teroris Santoso di Sulawesi Selatan. Bahan peledak tersebut ternyata disiapkan untuk melakukan serangan.

"Semuanya sudah dicampur dan sudah siap untuk diledakkan," kata Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Dicky Sondani di Makassar, Sabtu, 11 Agustus 2018.

Dicky menambahkan bahan peledak seberat 15 kilogram itu ditemukan dalam keadaan telah diolah dan disembunyikan dengan cara ditanam di sebuah kebun milik salah satu teroris yang ditangkap.

Bahan peledak yang ditanam dalam tanah itu hanya menyisakan detonator saja sehingga sulit untuk ditemukan. 

Menurut Dicky, empat teroris anggota jaringan Santoso yang ditangkap ini telah berpengalaman merakit bom dari bahan-bahan tertentu yang telah digunakan sebelumnya.

"Mereka sudah beraksi sejak 2010 lalu dan berpengalaman dalam perakitan dan perencanaan," kata Dicky menambahkan.

Keempat teroris yang ditangkap itu adalah B dan M yang ditangkap di Luwu Timur, serta R dan I yang ditangkap di Bone. Keempatnya ditangkap pada Jumat, 10 Agustus 2018 dan kini dibawa ke Jakarta untuk menjalani pemeriksaan.

Dicky menyatakan, berdasarkan hasil interogasi singkat oleh tim Densus 88 kepada para pelaku, ada kemungkinan aksi peledakan akan di lakukan anggota jaringan teroris itu pada tahun ini, khususnya di bulan Agustus.

"Ada kemungkinan mereka akan beraksi di bulan Agustus ini. Mereka punya target-target, tapi rencana mereka bisa dicegah setelah diamankan beserta bahan peledaknya," terangnya.

Menurut Dicky, keempat pelaku jaringan teroris Santoso dan Daeng Koro ini diduga terlibat dalam pengeboman di Poso yang korbannya adalah anggota polisi.

Apalagi empat orang yang ditangkap ini merupakan anggota aktif dan terlibat dalam beberapa aksi sejak tahun 2010 dan bergerilya bersama Santoso di wilayah pegunungan Sulawesi Tengah.

"Santoso punya banyak anggota aktif. Ini merupakan pendukung, sedangkan simpatisan adalah warga setempat. Yang ditangkap ini pendukung," tutupnya.

Redaktur: Reza Yunanto
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500