Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol M Iqbal (04/06/2018). Foto: Tribratanews

WNI Diduga Terlibat Aksi Bom di Filipina, Polri Kirim Tim Densus 88

Estimasi Baca:
Senin, 6 Ags 2018 19:35:53 WIB

Kriminologi.id - Karopenmas Divhumas Mabes Polri, Brigjen Pol Muhammad Iqbal membenarkan pihaknya mengirimkan tim Detasemen Khusus 88 Anti Teror ke Filipina guna menyelidiki keterlibatan warga negara Indonesia dalam aksi teror bom di negara tersebut. 

Namun Iqbal tidak memberitahukan secara rinci berapa personel yang dikirimkan guna melakukan penyelidikan tersebut.

"Di sana untuk melihat, profiling terduga teroris WNI dan sampai saat ini belum ada keputusan proses penyidikan yang mengarah ke terduga teroris ini," kata Iqbal, di Jakarta, Senin, 6 Agustus 2018.

Selain menyelidiki keberadaan WNI dalam aksi teror tersebut, pihaknya juga ingin memastikan keterlibatan WNI itu dalam aksi terori. Sebab, beredar kabar jika WNI itu bertindak sebagai pengemudi mobil yang membawa bom yang siap diledakkan di Basilan, Filipina Selatan.

"Belum tentu terkait, sama seperti kasusnya di Malaysia, sudah terkonfirmasi WNI, tapi sedang dalam proses penyelidikan," ujar Iqbal.

Dihimpun dari berbagai sumber, serangan bom mobil itu terjadi pada Selasa, 31 Juli 2018 sekitar pukul 5 pagi waktu setempat. Ledakan bom mobil berkekuatan dahsyat itu dilaporkan menewaskan sebelas orang termasuk empat anggota milisi, seorang tentara, dan lima warga sipil termasuk seorang anak.

Pelaku penyerangan dilaporkan menggunakan sebuah mobil berwarna putih yang mencoba menerobos pos pemeriksaan militer di Desa Colonia, Kota Lamitan.

Militer Filipina menuding kelompok Abu Sayyaf berada di balik serangan bom tersebut yang berafiliasi dengan kelompok ISIS.

Kelompok Abu Sayyaf adalah kelompok yang beroperasi di pinggir barat Pulau Mindanao di Filipina Selatan serta di Kepulauan Sulu yang membentang dari Mindanao. 

Kelompok itu memiliki keterkaitan dengan ISIS dan telah melakukan penculikan orang asing maupun warga Filipina dengan meminta tebusan.

Reporter: Walda Marison
Redaktur: Djibril Muhammad
KOMENTAR
500/500