Biji jarak, Foto: kabartani.com

1 Ton Benih Jarak Ilegal Asal Tiongkok Masuk Lewat Kepulauan Meranti

Estimasi Baca:
Sabtu, 14 Jul 2018 16:30:18 WIB

Kriminologi.id - Balai Karantina Pertanian Klas 1 Pekanbaru menyita 214 karung benih jarak dengan berat total mencapai satu ton asal Tiongkok di Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau.

"Benih jarak tersebut masuk ke Indonesia tanpa dilengkapi dokumen sah," kata Kepala Seksi Pengawasan Penindakan Balai Karantina Pertanian Klas I Pekanbaru, Ferdi, Sabtu, 14 Juli 2018.

Ferdi mengatakan, seluruh benih jarak tersebut disita dari tangan warga di Desa Kampung Peranap, Kecamatan Tebing Tinggi, Meranti.  Kasus ini, kata Ferdi, terungkap setelah Balai Karantina menerima informasi akan keberadaan benih jarak yang masuk ke wilayah terluar di Provinsi Riau, pada 3 Juli 2018.

Saat itu, terdapat dua ton benih jarak asal Tiongkok yang masuk ke Meranti. Namun, setelah pihaknya melakukan penyelidikan, hanya ada satu ton benih, sisanya diduga telah tersebar ke para petani di wilayah itu.

"Kita belum tahu sisanya kemana. Masih kita dalami," ujar Ferdi.

Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, kata Ferdi, beih jarak itu dikirim dari Tiongkok melalui Singapura, sebelum sampai ke Meranti. Untuk mencapai Meranti, benih tersebut dikirim melalui jalur laut.

Ferdi menjelaskan, Meranti bukan merupakan pelabuhan impor yang ditetapkan oleh pemerintah. Di Provinsi Riau, hanya ada dua pelabuhan impor resmi yakni Kota Dumai dan Bengkalis serta Bandara SSK II Pekanbaru.

Kegiatan impor benih jarak dari Tiongkok ini juga tidak dilengkapi dengan dokumen yang sah, yakni sertifikat kesehatan negara asal, izin dari menteri pertanian hingga melapor ke Balai Karantina setempat.

"Kita tidak menemukan sertifikat kesehatan negara asal dari benih jarak itu dan aktivitas impor juga tidak dilengkapi izin dari menteri pertanian," ujar Ferdi.

Dalam waktu dekat, seluruh benih itu akan segera dimusnahkan.Atas penyelundupan benih jarak ini, Ferdi mengatakan, pihaknya masih mendalami pihak-pihak yang bertanggung jawab, seperti penerima dan agen pelayaran.

Pelakunya, kata Ferdi, akan terjerat dengan Pasal 31 ayat 1 Jo Pasal 5 UU RI Nomor 16 tahun 1992 tentang karantina hewan, ikan dan tumbuhan. RZ 

Penulis: Yenny Hardiyanti
Redaktur: Reza Yunanto
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500