Tragedi di jembatan Al-Aaimmah Bridge Stampede. Foto: Lawrence Journal World

31 Agustus 2005, Isu Bom Bunuh Diri Peziarah Tewaskan 965 Warga Syiah

Estimasi Baca:
Jumat, 31 Ags 2018 06:00:45 WIB

Kriminologi.id - Salah satu tragedi kemanusiaan paling memilukan terjadi di Baghdad, ibu kota Irak, pada 31 Agustus 2005. Tragedi itu terjadi di jembatan Al-Aaimmah yang berdiri menyeberangi sungai Tigris, di mana sebanyak 965 peziarah Syiah tewas berdesak-desakan setelah dilanda kepanikan karena adanya rumor serangan bom bunuh diri.

Dilansir The New York Times, sebagian besar korban tewas mati lemas karena terinjak dan terhimpit. Para saksi mengatakan banyak yang tewas tenggelam karena jatuh atau melompat ke sungai Tigris setelah kerumunan panik menerobos pagar jembatan.

Bencana itu pun disebut sebagai tragedi hilangnya nyawa manusia dalam satu hari terbesar di Irak sejak invansi yang dipimpin Amerika pada Maret 2003.

Saat itu, sekitar satu juta peziarah berkumpul di sekitaran jembatan dan berbaris menuju Masjid Al Kadhimiya, yang merupakan tempat suci dimakamkannya Imam Syiah Musa al-Kadhim. Ketegangan dan ketakutan sudah mulai menyebar di kerumunan peziarah sejak satu jam sebelumnya, setelah sekelompok pemberontak menembakkan roket dan mortar di dekat masjid Kadhimiya, tempat yang akan dituju para peziarah.

Dalam serangan di dekat masjid Kadhimiya itu, sedikitnya tujuh tewas dan sekitar 36 orang lainnya terluka parah. Para pemberontak memang terkenal sering melakukan serangan saat tengah diadakan prosesi keagamaan Syiah di masa lalu.

Kelompok Sunni terkait dengan Alqaida, yang menamakan dirinya Jaysh al-Taifa al-Mansoura (Tentara dari Sekte Kemenangan), mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap masjid Kadhimiya. Klaim itu disampaikan melalui laman yang sering digunakan kelompok-kelompok yang terkait dengan Alqaida.

Mereka menyatakan serangan terhadap masjid Kadhimiya dilakukan untuk “menghukum dan membalas genosida yang dilakukan terhadap Sunni”.

Namun, pada insiden di jembatan Al-Aaimmah, kepanikan muncul bukan karena serangan yang berarti. Melainkan karena adanya desas-desus tak berdasar tentang seorang pria yang mengenakan sabuk bom bunuh diri di jembatan.

BBC melaporkan, para saksi mengatakan, seseorang di kerumunan dengan sengaja memicu kepanikan dengan mengatakan telah melihat seorang pembom bunuh diri. Dengan tersebarnya rumor itu, serta dengan adanya pengalaman di masa lalu tentang serangan radikal Sunni pada pertemuan besar Syiah, kepanikan pun muncul di tengah-tengah kerumunan.

Mereka mulai saling bertabrakan dan tidak ada yang melihat ke belakang atau membantu saat ada seseorang yang jatuh. Orang-orang mulai menginjak-injak satu sama lain dan semua orang mencoba menyelamatkan dirinya sendiri.

Ketika para peziarah berdesak-desakan untuk melarikan diri dari jembatan, pagar besi jembatan yang menuju ke masjid itu runtuh hingga mengakibatkan ratusan orang jatuh ke air. Hal ini menyebabkan banyak dari mereka yang tewas karena tenggelam.

Dilansir The Sydney Morning Herald, jumlah resmi korban akibat insiden itu tercatat sebanyak 965 orang tewas dan 465 orang terluka. Sebagian besar korban adalah perempuan, anak-anak dan orang lanjut usia.

Penulis: Aditia Tjandra
Redaktur: Djibril Muhammad
KOMENTAR
500/500