ilustrasi anak punk. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Aksi Main Palak Anak Jalanan Bertato Resahkan Warga Bogor

Estimasi Baca:
Rabu, 1 Ags 2018 05:35:28 WIB

Kriminologi.id - Keberadaan anak jalanan yang kerap meminta uang secara paksa kepada penumpang angkutan umum di wilayah kota Bogor, Jawa Barat membuat resah warga. Keluhan itu banyak masuk ke layanan pengaduan milik pemda setempat.

"Pengaduan terkait anak jalanan ini sering masuk dalam layanan pengaduan, bahkan tidak sedikit juga warga melapor langsung ke wali kota melalui media sosialnya," kata Kepala Satpol PP Kota Bogor, Herry Karnadi, Selasa, 31 Juli 2018.

Herry mengatakan, anak jalanan itu, seperti pengamen bertato dan bertindik kerap meminta uang secara paksa kepada penumpang angkutan kota di wilayah itu. Bahkan, dari bau mulutnya tercium aroma minuman keras.

"Tampilan mereka sudah meresahkan, bahkan bau mulutnya tercium aroma minuman keras," kata Herry menjelaskan.

Untuk menindaklanjuti laporan warga tersebut, Herry melanjutkan, Satpol PP Kota Bogor melakukan operasi rutin penertiban anak jalanan dan anak punk di sejumlah titik terutama di perempatan, lampu merah, lokasi keramaian lainnya. Petugas menyisir enam lokasi dan menjaring keberadaan anak jalanan, dan anak punk, serta pengamen, mulai dari simpang Warung Jambu, Kebon Pedes, Jl Sambu, Baranangsiang, Tugu Kujang, dan mal BTM. Dari operasi tersebut, kata Herry, petugas menertibkan 24 anak jalanan dari berbagai usia dan profesi seperti pengamen dan penjual minyak wangi.

"Sasaran kita anak jalan yang jadi pengamen nongkrong dan beroperasi di angkot," katanya.

Dalam operasi tersebut, Satpol PP menggandeng Dinas Perhubungan untuk memberhentikan sejumlah angkutan kota yang melintas di enam lokasi tersebut. Anak jalanan dan pengamen yang terjaring operasi petugas kemudian dibawa ke Balai Kota untuk mendapatkan pembinaan. 

Anak jalanan tersebut, kata Herry, sudah didata untuk masuk ke berita acara. Rata-rata dari mereka berasal dari luar Bogor, baik anak jalanan baru maupun lama. Pembinaan tersebut di antaranya menjalankan sanksi sosial dengan membersihkan sampah di lingkungan Balai Kota, jalan jongkok, hingga menyanyikan lagu nasional.

Upaya ini, kata Herry, sebagai terapi kejut untuk memberi efek jera agar para anak jalanan itu tidak mengulangi lagi perbuatannya. Bahkan, kata Herry, jika pada penertiban selanjutnya mereka masih kedapatan lagi, maka akan diserahkan ke Polsek untuk diberi tindakan tegas.

Penulis: Yenny Hardiyanti
Redaktur: Djibril Muhammad
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500