Foto sepeda motor yang ikut tenggelam bersama KM Sinarbangun di perairan Danau Toba, Sumatera Utara. Foto: Ist/Kriminologi.id

Alasan Korban KM Sinar Bangun Bisa Membeku di Danau Toba

Estimasi Baca:
Jumat, 29 Jun 2018 20:05:39 WIB

Kriminologi.id - Jenazah korban KM Sinar Bangun yang membeku di dasar Danau Toba kemungkinan dipengaruhi oleh kedalaman jatuhnya kapal tersebut yang mencapai sekitar 400 meter. Basarnas berhasil menemukan titik tenggelamnya KM Sinar Bangun dan menangkap gambar sepeda motor dan peralatan kapal di kedalaman.

Pada titik ini, dalam gambar tersebut terlihat korban mengalami pembekuan di sekitar kapal dan tidak mengambang. Tim tersebut memaksimalkan penggunaan remotely operated underwater vehicle (ROV) dan Trawl untuk mengevakuasi korban dan bangkai KM Sinar Bangun.

Jenazah korban yang membeku karena tenggelamnya KM Sinar Bangun tersebut, kata peneliti danau Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Hadiid Agita Rustini kepada Kriminologi.id, mengatakan kemungkinan dipengaruhi oleh kedalaman jatuhnya kapal tersebut yang mencapai sekitar 400 meter di perairan Danau Toba.

Pada kondisi itu, kata Agita, sinar matahari tidak dapat menembus di kedalaman, sehingga menyebabkan suhu air dingin.

"Kami perkirakan, suhu air di tempat jatuhnya KM Sinar Bangun itu sekitar 20 derajat celcius. Kalau sudah berada di dasar dan berhari-hari, apalagi tidak terdekomposisi, mengingat kondisi oksigen di kedalaman tersebut sudah 0, maka tidak ada bakteri aerob yang membantu dekomposisi atau penguraian. Sehingga, kakunya jenazah itu proses alami, sepeti jenazah pada umumnya,," kata Agita, Jumat, 29 Juni 2018.

Ia mengatakan, suhu 20 derajat celcius di kedalaman di bawah 400 meter itu merupakan suhu normal untuk Danau Toba. Sedangkan suhu di permukaan Danau Toba bila panas mencapai sekitar 26-27 derajat celcius.

Namun, ia mengakui, bahwa pihaknya hanya pernah melakukan simulasi pengukuran di siang hari dengan maksimal kedalaman 350 meter di perairan Danau Toba pada Maret 2016 dan Agustus 2017.

"Kalau siang normalnya segitu. Cuaca panas ataupun dingin di permukaan danau tidak akan terlalu mempengaruhi suhu di bagian dalam perairan. Di kedalaman 100 meter itu saja suhu sudah mirip dasar, kalau malam suhu lebih rendah lagi di permukaan," kata Agita.

Agita mengatakan, jenis air di Danau Toba merupakan air tawar. Terkait dengan arus di bawah perairan Danau Toba, kata Agita, jika arus berada di bawah 100 meter, arus sudah dalam kondisi tenang. Namun, lain halnya jika arus air berada di atas 100 meter. Menurutnya, arus akan cukup besar karena dipengaruhi oleh morfologi danau dan faktor-faktor lain.

Sedangkan kontur dasar perairan Danau Toba sehingga menyulitkan tim evakuasi menyelamatkan korban KM Sinar Bangun, Agita menjelaskan bahwa kontur dasar Danau Toba tempat jatuhnya KM Sinar Bangun tergolong stabil, meski kontur dasar di sekitarnya sangatlah curam.

"Bisa kita lihat dari sekeliling danau, danau ini dikelilingi oleh dataran curam, jadi ya kurang lebih dasar Danau Toba sama. Tapi, kapal itu jatuh sudah sampai ke bagian yang relatif datar. Kapal sudah stabil berada di situ, dia enggak akan pindah-pindah lagi, maksudnya kondisinya tenang," kata Agita menjelaskan.

Agita menjelaskan, KM Sinar Bangun sempat terbawa arus sampai di kedalaman 60 meter. Meski arus hanya bergerak dengan kecepatan 2 cm perdetik, namun dengan massa air berjumlah hingga megaton, akan berdampak pada bergeraknya obyek yang terbawa arus.

"Dia (KM Sinar Bangun) jatuhnya pun enggak terlalu dekat dengan posisi saat dia terbalik pertama kali, kayaknya lebih dari 1 km dari posisi perahu terbalik," kata Agita.

Hal ini terjadi, kata Agita, karena adanya perbedaan arus baik di permukaan dan di kedalaman. Menurutnya, gelombang air di permukaan dengan arus air di kedalaman mulai 2 hingga 3 meter sudah berbeda. 

"Ketika angin tinggi, gelombang tinggi dan bagian atas kapal tertiup angin, sedangkan di bagian bawah kapal terbawa oleh arus, sehingga kapal akan sangat mudah terbalik kemudian airnya masuk ke relung kapal, dan akhirnya kapal di bawah pengaruh arus," kata Agita.

Sebelumnya diberitakan KM Sinar Bangun dalam pelayaran rute Pelabuhan Simanindo Kabupaten Samosir menuju Pelabuhan Tiga Ras tenggelam menjelang satu mil tiba di tujuan pada Senin, 18 Juni 2018 sore.

Hingga kini, tim SAR gabungan masih berupaya untuk mengevakuasi bangkai kapal KM Sinar Bangun dan para korbannya yang mencapai ratusan orang.

KOMENTAR
500/500