Ilustrasi penembakan. Ilustrasi: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Alasan Polisi Tembak Warga Sumba Barat dari Belakang, Acungkan Parang

Estimasi Baca:
Senin, 3 Sep 2018 13:11:30 WIB

Kriminologi.id - Polda Nusa Tenggara Timur membantah melakukan penembakan secara paksa terhadap Agustinus Ana Mesa, warga Kampung Tilu Mareda, Desa Dede Pada, Kecamatan Wewewa Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya. Menurut polisi, Agustinus terpaksa ditembak karena melawan saat hendak ditangkap.

"Tidak ada salah tembak. Yang bersangkutan (Agustinus) lakukan upaya perlawanan pakai parang, rebut senjata dan larikan diri. Kami terpaksa melakukan upaya tindakan tegas dan terukur," kata Kabid Humas Polda NTT, Kombes Jules Abraham Abast kepada Kriminologi.id, Jakarta, Senin, 3 September 2018.

Menurut Jules, Agustinus merupakan buronan kasus pencurian hewan ternak dan kendaran bermotor sejak 2017 lalu bersama kakak kandungnya, Yus Rewa yang telah divonis tiga tahun penjara.

Setelah sekian lama memburunya, polisi kemudian mendengar informasi jika pada Kamis, 23 Agustus 2018, Agustinus berada di lapangan Gelora Pada Ewata, Sumba Barat.

"Kami dapat info dia ada di Gelora Pada Ewata sehingga anggota Reskirm lakukan penangkapan. Yang bersangkutan melawan dan rebut senjata petugas. Kami amankan satu buah parang saat penangkapan," ujar dia.

Jules memastikan, penembakan terhadap Agustinus sudah melalui prosedur yang benar. Dia kembali membantah melakukan penembakan paksa terhadap Agustinus.

"(Penembakan paksa) Itu kan pengakuan dia, versi dia. Yang jelas kami sudah (sesuai) SOP. Kami lakukan tindakan untuk melumpuhkan," katanya.

Dugaan penembakan paksa ini diungkap Agustinus yang saat ini dirawat Rumah Sakit Umum Waikabubak, Sumba Barat. Ia mengaku ditangkap saat sedang berada di lokasi pameran Kota Waikabubak. Ia kemudian dibawa ke Polres Sumba Barat.

Saat berada di Polres Sumba Barat, ia mengalami serangkaian penyiksaan. Kemudian anggota Polres Sumba Barat membawa Agustinus ke hutan Lepale.

"Saya dipukul, diikat, lalu ditutup mata dan dibawa lagi dengan mobil ke hutan Lepale dan disuruh lari. Saya tidak mau lari, tapi dia dorong. Saya akhirnya lari dan kaki kanan saya ditembak," ungkap Agustinus di RSU Waikabubak.

Kakak Agustinus, Yus Rewa mengaku tidak mengetahui kejadian tersebut setelah ramai diceritakan orang. Pihak keluarga, ia mengatakan, tidak pernah mengetahui Agustinus merupakan DPO polisi.

Saat ramai diceritakan orang, ia menambahkan, pihak keluarga langsung mencari tahu keberadaan Agustinus di Polres Sumba Barat, namun tidak ada. Hingga larut malam, keluarga baru mendapat kabar dari teman korban, Agustinus sedang berada di RSU Waikabubak.

"Saya kaget kaki kanannya tertembak. Dan saya tahu adik saya sehat tidak ada luka saat pergi nonton pameran," ujar Yus Rewa.

Saat berada di rumah sakit, ia menjelaskan, anggota Polisi Sumba Barat datang dan menyampaikan, Agustinus merupakan buronan kasus pencurian hewan dan kendaraan bermotor.

"Kami tidak pernah tahu dari keluarga kalau adik saya ditetapkan sebagai DPO pencurian hewan dan kendaraan. Terus kata polisi lagi, adik saya juga DPO terkait perkelahian. Kami bingung, sejauh ini, polisi tidak pernah sampaikan atau kasih surat kepada keluarga. Tiba-tiba dengar adik saya ditangkap di acara pameran di Waikabubak," kata Yus.

Reporter: Marselinus Gual
Penulis: Marselinus Gual
Redaktur: Djibril Muhammad
KOMENTAR
500/500