Polres Metro Jakarta Barat tangkap sejumlah preman berkedok satpam yang tarik iuran ke pemilik Ruko Seribu, Cengkareng. Foto: Rizky Adytia/Kriminologi.id

Alasan Preman Berkedok Satpam Tagih Iuran ke Penghuni Ruko 

Estimasi Baca:
Selasa, 28 Ags 2018 19:35:25 WIB

Kriminologi.id - Polisi telah menangkap beberapa preman berkedok satpam kawasan Seribu Ruko (Rumah Toko) di Cengkareng, yang disebut memeras seorang penghuni bernama Benny puluhan juta rupiah. Namun, beberapa penghuni mempertanyakan penangkapan itu lantaran pihak pengelola hanya menagih uang Iuran Kebersihan Keamanan Ruang atau IKKR.

Salah seorang penghuni ruko bernama Riki mengatakan, aksi para pengelola yang disebut sebagai pemerasan terhadap Benny hanyalah penarikan iuran yang telah lama ditunggaknya selama 10 tahun. Dari informasi yang didengarnya penunggakan itu terjadi lantaran pemilik ruko Blok R nomor 7-8 yang sebelumnya adalah orang tua Benny.

Terkait hal itu, pihak pengelola meminta kepada Benny untuk melunasi tunggakan tersebut sebelum memulai usahanya di ruko tersebut. 

"Saya sebenarnya bingung juga kan pihak pengelola cuma nagih tunggakan iuran selama 10 tahun. Jadi kalau mau mulai usaha harus membayar tunggakan itu dulu," ucap Riki kepada Kriminologi.id saat ditemui di lokasi, Selasa, 28 Agustus 2018.

Selain itu, Riki menyebut, biaya yang ditarik pihak pengelola ruko atau PT Titu Harmoni untuk iuran, sebesar Rp 350 ribu setiap bulannya. Menurut dia, iuran itu digunakan pihak pengelola untuk membayar gaji beberapa satpam dan memperbaiki beberapa fasilitas ruko.

"Kalo dari omongannya memang buat bayar satpam, sama benerin fasilitas. Sejauh ini memang sudah ada perbaikan jalan tapi memang belum seluruhnya," kata Riki.

Terpisah, seorang penghuni lainnya bernama Yamin, yang juga merupakan pengurus RT setempat, mengatakan penarikan iuran itu memang sudah berlangsung lama. Namun, ia mengaku tak merasa keberatan dengan adanya penarikan itu.

Apalagi, ia mengaku, uang itu sudah digunakan dengan benar untuk memperbaiki fasilitas ruko. Bahkan, setiap pembayaran iuran itu juga dilenyapkan dengan kuitansi yang langsung diberikan pihak pengelola.

Yamin juga menyebut beberapa penghuni mungkin tak setuju dengan adanya iuran itu. Para penghuni yang tak setuju dengan iuran itu beralasan perbaikan yang dilakukan tak sebanding dengan kondisi lingkungan ruko saat ini.

"Kalau saya sih sebenarnya tidak mempermasalahkan ya karena memang ada buktinya (perbaikan fasilitas) sepertinya pengecoran jalan. Tapi kan kepuasan orang beda-beda. Mungkin ada yang pikir kalau perbaikan kurang atau gimana," kata Yamin.

Sebelumnya diberitakan, beberapa oknum pengelola kawasan Seribu Rumah Toko (Ruko) diketahui lantaran melakukan pemerasan terhadap salah seorang penghuni bernama Benny hingga mencapai puluhan juta rupiah.

Dengan modus pembayaran iuran itu, oknum pengelola meminta Benny untuk membayarkan uang mencapai Rp 24 juta yang telah ditunggak selama sepuluh tahun. 

Namun, tunggakan itu berasal dari pemilik ruko sebelumnya. Sehingga jika dihitung dari iuran perbulannya sebesar Rp 350 ribu, tunggakan itu mencapai Rp 42 juta.

Dengan tagihan yang mecapi puluhan juta rupian itu, Benny tak terima sehingga melaporkan aksi pemerasan itu kepada pihak kepolisian.

"Korban ini disuruh membayarkan uang iuran yang sebelumnya ditunggak oleh penghuni lama," ucap Kapolres Metro Jakarta Barat, Kombes Hengky Haryadi di Mapolres Jakarta Barat, Senin, 27 Agustus 2018.

Reporter: Rizky Adytia
Redaktur: Djibril Muhammad
KOMENTAR
500/500