Ilustrasi kelompok kriminal bersenjata KKB Papua. Ilustrasi: Kriminologi

Anggota TNI Tewas Hadapi Serangan KKB Saat Kawal Petugas PLN di Paniai

Estimasi Baca:
Senin, 6 Ags 2018 15:20:58 WIB

Kriminologi.id - Dua anggota TNI meninggal dunia menghadapi kelompok kriminal bersenjata (KKSB) di Kabupaten Paniai, Senin, 6 Agustus 2018 sekitar pukul 09.30 WIT.

Saat itu, dua anggota TNI sedang mengawal tim PLN yang melakukan survei di Kabupaten Paniai. 

Kapolres Paniai AKBP Supriagung ketika dihubungi Antara membenarkan terjadinya aksi penyerangan terhadap tim survei dari PLN yang mendapat pengawalan dari anggota TNI itu.

Ia mengatakan bahwa empat anggota tim survei dari PLN selamat, sedangkan jenazah dua anggota TNI kini berada di RSUD Madi, Enarotali.

Belum diketahui nama personel TNI yang wafat akibat serangan KKSB di Kampung Wegimuga itu, kata AKBP Supriagung yang dihubungi melalui telepon selulernya.

Sementara itu, Kapendam XVII Cenderawasih Kolonel Inf. Muhammad Aidi ketika dihubungi mengaku belum mendapat laporan tentang insiden tersebut.

"Saya masih terus mengontak untuk mendapat laporan tersebut," kata Aidi.

Sebelumnya dua anggota Polres Puncak Jaya dilaporkan menjadi korban penembakan oleh anggota Kelompok Kriminal Bersenjata atau KKB. Dua polisi tersebut ditembak saat sedang menggendarai sepeda motor sore tadi sekitar pukul 17.20 WIT.

"Insiden yang terjadi di Kampung Pagaleme itu terjadi saat keduanya yang menggunakan sepeda motor sedang menuju Mapolres Puncak Jaya di Mulia," kata Kapolda Papua Irjen Pol Boy Rafli Amar, Kamis, 2 Agustus 2018.

Bripka Abraham Balagaise tertembak di bagian paha kiri dan lengan kiri, dan Briptu Ronaldus Abar tertembak di lengan kiri. Keduanya sudah ditangani tim dokter RSUD Mulia, Puncak Jaya, Papua.

Mantan Kadiv Humas Mabes Polri itu menuding pelaku penembakan adalah anggota KKB. Setelah kejadian penembakan tersebut, pelaku langsung melarikan diri ke arah gunung.

"Tidak ada senjata yang hilang karena saat itu kedua anggota organik Polres Puja sedang tidak bertugas," ujarnya.

Redaktur: Syahrul Munir
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500