TKI ilegal yang hendak dideportasi Pemerintah Malaysia (ANTARA Foto/Ist)

Banyak yang Meninggal, Warga Atambua Tetap Rentan Jadi TKI Ilegal

Estimasi Baca:
Jumat, 13 Jul 2018 17:05:16 WIB

Kriminologi.id - Banyaknya TKI yang meninggal di luar negeri bukan halangan bagi warga asal Kabupaten Belu, NTT untuk bekerja di luar negeri. Sesuai data Forum Peduli Perempuan dan Anak (FPPA) Kabupaten Belu, periode Januari hingga Juni 2018, kurang lebih terdapat 40 orang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) meninggal dunia.

Dari jumlah pekerja asal NTT termasuk dari wilayah perbatasan Kabupaten Belu, sebagian bisa dipulangkan, namun terdapat juga yang tidak bisa dipulangkan ke keluarga.

Ketua FPPA Belu Suster Sisilia mengatakan, jumlah TKI meninggal dunia dan tidak bisa dipulangkan terkendala pengurusan administrasi kewarganegaraan, karena saat keberangkatan secara ilegal ataupun nonprosedural tidak diketahui Pemerintah.

"Di sini, sangat rentan mereka mau pergi-pergi saja meskipun sudah banyak korban. Tahun ini, saja sampai Juni sudah kurang lebih 40 orang meninggal kasus secara umum di NTT termasuk orang Belu, ada yang meninggal tidak bisa dipulangkan karena banyak tidak resmi," ujar Suster Sisilia di Atambua, Jumat, 13 Juli 2018, seperti dilansir RRI.co.id.

Menurut dia, Kabupaten Belu masih cukup rentan keinginan warganya memilih bekerja keluar daerah asal sebagai TKI baik dilakukan secara prosedural, maupun banyak juga nonprosedural. Contohnya adalah kasus meninggalnya Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Desa Silawan Belu, sementara dalam pengurusan asuransi dengan sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi, dan pengurusannya pun di Kupang NTT.

"Korban meninggal dari Silawan ini, masih urus asuransi harus penuhi syarat-syarat untuk terima asuransi sementara waktu cukup terbatas cepat ke Kupang. Apabila tidak ya tidak bisa terima, Asuransi tenaga kerja dari BP3TKI yang resmi yang dapat," jelas Suster.

Sementara peran FPPA Belu dalam hal pemberian pelatihan ketrampilan kepada korban Human Traficking dilakukan secara terprogram. Hal ini dalam upaya pemberdayaan korban untuk melatih hidup mandiri, tidak harus tergantung dengan memilih bekerja sebagai TKI.

Penulis: Marselinus Gual
Redaktur: Djibril Muhammad
Sumber: RRI
KOMENTAR
500/500