Dok. Kanit Provost Polsek Medan Barat, Sumatera Utara, Aiptu Sugiono, Foto: Tribrata

Cara Penyidik Polisi di Medan Atasi Saksi Bungkam dengan Hipnotis

Estimasi Baca:
Rabu, 5 Sep 2018 11:05:41 WIB

Kriminologi.id - Beragam cara dilaklukan penyidik polisi dalam menghadapi saksi yang tidak mau terbuka saat dimintai keterangan saat mengungkap kejahatan. Seribu trik pastinya sudah dikuasai penyidik agar saksi mata peristiwa kejahatan itu mau menceritakan apa yang diketahuinya dalam sebuah perkara. 

Jika buntu, polisi masih punya cara yakni menggunakan hipnotis. Hal ini yang diterapkan oleh seorang anggota polisi di Medan Barat, Sumatera Utara, Aiptu Sugiono menggunakan hipnotis (hipnoforensik) untuk mengungkap kejahatan.

Teknik ini dipelajari Sugiono secara otodidak dan membantu unitnya dalam mengungkap pelaku kejahatan di Medan.

"Saya mulai tertarik belajar hipnotis, kalau tidak salah mulai pada tahun 2004 atau 2005 lalu," kata Sugiono di Medan, Selasa, 4 September 2018.

Aiptu Sugiono saat ini menjabat sebagai Kanit Provost Polsek Medan Barat. Ketertarikan pria asli Blitar, Jawa Timur ini akan hipnotis ini dimulai setelah ia melihat aksi seorang tokoh hipnotis di televisi.

"Aku berpikir, kok dia bisa ya. Jadi aku bertekad aku juga harus bisa. Hingga akhirnya aku beli buku dan belajar hipnotis, sampai akhirnya bisa menghipnotis orang lain," ujarnya.

Bahkan keahlian Aiptu Sugiono ini sempat digunakan untuk mengungkap beberapa kasus kejahatan di Kota Medan.

"Saat itu Kapolres Pak Tagam, dia meminta saya menghipnotis saksi mata untuk memberikan informasi siapa saja yang terlibat aksi kejahatan," tutur Sugiono.

Teknik hipnotis pernah digunakan Polda Metro Jaya untuk mengungkap kasus pembunuhan PNF, bocah perempuan yang mayatnya ditemukan dalam kardus di Kalideres, Jakarta Barat tahun 2015 lalu.

Saat itu, jabatan Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Metro Jaya diemban oleh Kombes Krishna Murti. Menurutnya, salah satunya adalah teknik hipnotis guna menggali keterangan dari Agus, yang diduga kuat sebagai pelaku pembunuhan tersebut.

Krishna menjelaskan hipno forensik ini merupakan salah satu upaya menggali keterangan seseorang terperiksa dengan menggunakan teknik hipnoterapi. Menurutnya teknik ini sudah lama dikembangkan di Polda Metro Jaya.

Teknik ini biasanya digunakan terhadap orang yang tidak mau terbuka atau bercerita dengan benar seputar kejadian yang diketahuinya itu. Krishna mengatakan ini hanya bagian dari teknik interogasi atau menginterview dalam menggali masalah. 

Ahli teknik hipno forensik itu, Kirbi menjelaskan cara kerja hipnoterapi. Menurutnya teknik ini digunakan untuk menginterogasi saksi atau terperiksa.

"Jadi ketika menjawab, tidak hanya konten dan kata-kata yang dia sampaikan, bisa jadi alat diperiksa benar atau tidak. Tapi juga dari gerak-gerik dan bahasa tubuh," katanya.

Kirbi menyatakan seseorang yang diinterogasi masih ada kemungkinan untuk berbohong ketika dihipnoterapi. Namun, kata dia, dengan cara interogasi yang tepat ditambah dengan hipnotis maka mampu memperoleh kecenderungan seseorang.

"Orang ini sebetulnya menyembunyikan sesuatu atau tidak, atau mungkin ada orang lain yang terlibat atau tidak, itu bisa digali dari situ," ujarnya.

KOMENTAR
500/500