Rumah Kapitra Ampera di Jalan Tebet Dalam Timur 8, Jakarta Selatan. Foto: Erwin Maulana/Kriminologi.id

Enam Fakta Teror Molotov di Rumah Mantan Pengacara Habib Rizieq

Estimasi Baca:
Selasa, 7 Ags 2018 17:32:35 WIB

Kriminologi.id - Rumah mantan pengacara Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab, Kapitra Ampera dilempar dua bom molotov oleh orang tak dikenal. Pelaku sempat terekam kamera pengawas atau CCTV di rumah yang terletak di Jalan Tebet Timur Dalam VIII, Nomor 16, Tebet, Jakarta Selatan itu.

Sejumlah fakta muncul terkait kasus tersebut. Berikut fakta-fakta yang dirangkum Kriminologi.id, Selasa, 7 Agustus 2018.

1. Pelaku Terekam Kamera

Dalam potongan gambar rekaman CCTV, Senin, 6 Agustus 2018, memperlihatkan empat orang yang tengah berboncengan dengan menggunakan dua sepeda motor.

Keempat orang tersebut tampak menggunakan jaket dan helm full face. Pada salah satu motor, pengendara yang duduk di kursi penumpang terlihat membawa tas ransel di punggungnya.

Hal tersebut juga dibenarkan Kapitra yang dikonfirmasi soal teror molotov terkait peristiwa tersebut.

"Ada 4 orang dengan dua motor. Ada yang nyisir dan ada yang lempar," katanya, Senin, 6 Agustus 2018.

2. Kapitra Sedang Tak di Rumah 

Pelemparan molotov itu terjadi saat Kapitra tak berada di rumah. Ia mengetahui pelemparan molotov itu dari istrinya yang sedang berada di rumah bersama seorang pembantu rumah tangga.

Saat itu Kapitra tak berada di rumah karena sedang melaksanakan salat Isya di musala Al Itihad.

"Ada istri dan pembantu saya yang lihat. Saya waktu itu (pelemparan bom) sedang tidak di rumah," terang salah satu calon anggota legislatif (caleg) PDI-P ini.

3. Pelaku Lempar Dua Molotov 

Dalam teror pelemparan molotov itu, satu molotov dikemas dalam botol minuman berenergi. Botol tersebut sempat meledak di halaman rumah.

Sementara satu botol lainnya berhasil dipadamkan pembantu rumah tangga di rumah tersebut sehingga tidak menimbulkan kebakaran.

"Ada dua bom yang dilempar di halaman rumah saya. Satu meledak, satu apinya padam," kata Kapitra.

4. Sempat Disangka Petasan

Seorang keponakan Kapitra Ampera menceritakan, pelemparan molotov itu pertama kali disadari oleh Yanti, asisten rumah tangga di rumah itu, dan Yosandra yang merupakan istri Kapitra.

Menurutnya, tiba-tiba keduanya mendengar suara seperti petasan dan diikuti suara pecahan kaca. Saat itu pembantu rumah tangga di rumah itu kemudian mengecek.

Yanti lalu beranjak menuju bagian depan rumah. Ketika Ia membuka pintu, ternyata sudah ada pecahan kaca yang berasal dari molotov yang dilempar.

5. Teror Terkait Politik

Kapitra menduga, serangan teror itu terjadi sejak dirinya memutuskan bergabung menjadi kader PDI Perjuangan. Selain molotov, Kapitra mengaku kerap melihat orang yang mondar-mandir di sekitar rumah.

“Ada juga orang bertato yang datang ke masjid, menanyakan diri saya dari orang lain," kata Kapitra menerangkan jenis ancaman yang ia terima saat menjadi anggota partai. 

Dalam satu minggu terakhir, ia mengaku banyak orang tidak dikenal yang bertanya mengenai dirinya ke orang-orang di masjid. 

"Pasti ada kaitan-kaitan (serangan bom) dengan pilihan politik. Saya masuk PDIP karena ingin menyampaikan kebenaran. Tampaknya, ada satu statement (pernyataan) saya kemarin yang buat orang berang," terang Kapitra.

6. Pelaku Lari ke Arah Cawang

Seorang pegawai depot pengisian air minum di seberang rumah Kapitra Ampera, mengaku melihat dua pelaku pelemparan molotov.

Menurut Latief, Selasa, 7 Agustus 2018, saat peristiwa itu terjadi, temannya sedang menjaga depot air minum. Latief mengaku mendengar cerita pelemparan itu dari rekannya yang saat itu sedang bertugas.

Pada waktu kejadian tersebut, Rama yang merupakan rekan kerjanya sempat melihat dua sepeda motor menuju ke arah selatan meninggalkan rumah Kapitra usai pelemparan. AS

Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500