Jasad Sumarti, wanita yang ditemukan tewas di Jalan Kampus Ungkris RT 05/09, Jaticempaka, Pondok Gede, Kota Bekasi. Foto: Rahmat Kurnia/Kriminologi.id

Fakta-fakta Penganiayaan Pasutri hingga Tewas di TPU Pondok Gede

Estimasi Baca:
Kamis, 6 Sep 2018 05:30:42 WIB

Kriminologi.id - Peristiwa penganiayaan yang dilakukan Juariah (33) terhadap pasutri Dul Hamid (68) dan Sumiarti (55) di TPU Pondok Gede, Kota Bekasi pada 3 September 2018 lalu berujung maut.

Sumiarti akhirnya tewas. Wanita itu mengalami penganiayaan hebat. Kepalanya dibenturkan ke aspal dan dipukul menggunakan batu oleh Juariah.

Peristiwa memilukan yang dialami pasutri itu memunculkan sejumlah fakta yang dirangkum Kriminologi.id sebagai berikut:

1. Juariah terlebih dulu menganiaya Dul Hamid 

Pada Senin, 3 September 2018, Juariah berpapasan dengan Dul Hamid dan Sumarti di samping TPU Pondok Gede, Bekasi. Saat itu, Dul dan Sumarti baru pulang dari puskesmas untuk memeriksakan kesehatan Dul yang terkena katarak dan pendengarannya kurang jelas. Dul berjalan dengan dibantu tongkatnya. Sementara sang istri memegangi Dul.

"Saya emang tiap bulan untuk kontrol. Saya sakit katarak sama pendengaran kurang jelas," kata Dul kepada Kriminologi.id di rumahnya, Selasa, 4 September 2018.

Sampai di lokasi kejadian, tepatnya di pemakaman milik keluarga, kedua pasangan suami istri itu berpapasan dengan Juariah.

Saat itu Dul dan Sumarti sudah takut karena memang Juariah kerap kali mengamuk dengan melempari batu kepada warga sekitar. Tanpa sebab yang jelas, Juariah berlari ke arah pasutri itu dan langsung mengambil tongkat yang digenggam Dul. Dengan tongkat itu, Dul dipukul di bagian bahu Dul.

"Saya disuruh pergi sama istri saya. Saya enggak tahu yang mukul saya siapa karena mata saya sudah enggak awas juga. Saya diselametin sama orang dibawa ke tempat aman," ujar Dul.

2. Kepala Sumarti dibenturkan ke aspal dan dipukul pakai batu di sekitar makam

Ketika Dul diamankan, Sumarti menjadi korban amuk Juriah. Juariah membenturkan kepala Sumarti ke jalan beraspal dan bagian kepalanya dipukul menggunakan batu di sekitar makam. Seketika Sumarti roboh dengan bagian kepala dan wajah mengeluarkan darah. Saat itu Sumarti masih bernafas. Warga kemudian membawa korban ke rumahnya yang berjarak 700 meter.

3. Juariah bersembunyi di masjid 
Puas menganiaya korban, Juariah pergi ke masjid yang berjarak 500 meter dari lokasi kejadian. Warga yang mengetahui pelaku penganiayaan pergi ke masjid kemudian berusaha meringkus pelaku.

"Suaminya juga kan jalan juga susah bang, dia bawa tongkat, tongkatnya saja diambil terus digetokin ke suaminya. Istrinya pengen nyelametan suaminya. Abis mukulin langsung pergi ke masjid," kata salah satu warga Yati kepada Kriminologi.id di lokasi, Selasa, 4 September 2018.

4. Hanya ingin masuk mobil polisi

Menurut warga setempat, Juariah langsung ditangkap kepolisian di dalam Masjid. Juriah sempat tidak mau dinaikan ke mobil biasa untuk dibawa ke Polsek. Juriah mau ikut ke Polsek Pondok Gede asalkan menaiki mobil kepolisian.

"Warga juga bingung ini orang gila, malah dia maunya ditangkep sama polisi enggak mau sama warga," katanya.

Kanit Reskrim Polsek Pondok Gede, AKP Supriyanto mengatakan pihaknya sudah mengamankan pelaku. Saat ini pelaku berada di RS Polri Kramatjati untuk menjalani tes kejiwaan.

"Sekarang pelaku sudah kami amankan, pelaku sekarang di RS Polri sedang dites (kejiwaannya)," kata Supriyanto.

5. Stres sejak gagal nikah

Perubahan pribadi Juaria diketahui warga sejak 10 tahun lalu, ketika ia gagal menikah. Sejak gagal menikah, Juariah sering mengejar pedagang yang lewat di depan rumahnya. 

"Hampir 10 tahun lalulah, dia pengen nikah, tapi calon lakinya itu malah nikah sama orang lain, dari kejadian itu dia mulai stres gitulah," kata salah satu tetangga Juariah berinisial AN kepada kriminologi, Rabu, 5 September 2018.

Pihak keluarga berusaha mengobati Juriah di daerah Rawa Lumbu, Bekasi Timur. Dari pengobatan itu, pribadi Juriah sedikit lebih baik.

"Sifatnya angot-angotan, kadang baik ya kadang marah-marah, sampai ada tukang gorengan jadi sasaran, kadang rumah tetangganya ditimpukin pake batu," kata AN.

6. Berpenampilan seperti orang normal

Meski mengalami gangguan jiwa, dari segi penampilannya, Juariah terlihat normal. Warga kadang melihatnya Juariah datang ke masjid untuk salat berjamaah.

"Kagak keliatan kaya orang gila, baju rapi, kadang sholat, kalau mas yang liat pasti kaya orang normal, tapi kalau udah tahu aslinya mah agak ngeri juga," kata salah seorang tetangga Juariah yakni AN, Rabu, 5 September 2018.

Reporter: Yenny Hardiyanti
Penulis: Yenny Hardiyanti
Redaktur: Reza Yunanto
KOMENTAR
500/500