Ilustrasi perampokan mobil berisi uang bank. Ilustrasi: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Kakak Beradik Rencanakan Rampok Rp 3,5 M di Bukittinggi April 2018

Estimasi Baca:
Jumat, 31 Ags 2018 18:15:10 WIB

Kriminologi.id - Perampokan mobil kas Bank Syariah Mandiri atau BSM yang membawa uang Rp 3,5 miliar dari Bukittinggi, Sumatera Barat, menuju Payakumbuh telah direncanakan sejak April 2018.

"Perampokan dilakukan karena sakit hati tersangka Japar, sekuriti bank, yang uang lemburnya tidak dibayar penuh oleh pihak bank," kata Kapolres Bukittinggi, AKBP Arly Jembar Jumhana di Bukittinggi, Jumat, 31 Agustus 2018.

Lantaran sakit hati itu, pada April 2018, kata Arly, tersangka Japar menghubungi kakaknya Ramadhan Sinaga. Tersangka menawarkan merampok mobil operasional bank yang dikawalnya.

Mendengar tawaran ini, kemudian Ramadhan menghubungi Dedi Sinaga untuk melakukan perampokan. Mereka juga mencari rekan-rekan lain berjumlah tujuh orang yang akan terlibat. Diketahui, Dedi Sinaga masih buron.

Sebulan kemudian, para tersangka menyewa mobil untuk menjalankan aksi namun belum terlaksana. Selang seminggu kemudian hal yang sama kembali dilakukan namun masih gagal dijalankan.

Aksi perampokan mobil kas Bank Syariah Mandiri akhirnya mereka lakukan pada Senin, 4 Juni 2018 di kawasan PLTA Batang Agam. Sebelum melancarkan aksinya, kata Arly, para tersangka bermalam di daerah Palupuh di kawasan mobil yang mereka rental tersebut.

Usai merampok mobil operasional bank yang tidak dikawal kepolisian itu, kata Arly, para tersangka kabur ke Pekanbaru, Riau. Ketika di perbatasan Riau dan Sumatera Utara, para tersangka membagi uang dengan jumlah sama banyak lalu berpencar.

"Hasil rampokan umumnya digunakan untuk beli lahan sawit. Empat dari sepuluh tersangka kini masih dalam pencarian, enam orang ditangkap dalam kurun 20 sampai 28 Agustus 2018," kata Arly.

Sementara pengacara Bank Syariah Mandiri Bukittinggi, Mevrizal membantah bahwa pihak bank tidak membayar penuh uang lembur tersangka Japar.

"Japar memang sekuriti di BSM namun tidak benar jika dia tidak menerima penuh uang lemburnya," kata Mevrizal.

Terkait dengan pengiriman uang tunai tanpa pengawalan kepolisian, ia menerangkan, jika uang yang dikirim di bawah Rp 5 miliar, maka pihak bank berhak menentukan apakah akan memakai pengawalan dari kepolisian atau tidak.

"Pengawalan wajib dilakukan jika uang yang diangkut berjumlah Rp 5 miliar atau lebih," katanya. 

Penulis: Yenny Hardiyanti
Redaktur: Djibril Muhammad
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500