Sani, PRT bunuh balita majikannya di Cikande saat rekonstruksi (09/08/2018). Foto: Ist/Kriminologi.id

Keterangan PRT Bunuh Balita Majikannya di Cikande Konsisten

Estimasi Baca:
Kamis, 9 Ags 2018 13:00:32 WIB

Kriminologi.id - Sani (29), pekerja rumah tangga atau PRT yang membunuh balita majikannya di Perum Griya Asri Cluster Mahoni Blok B 14 nomor 30 RT 01 RW 11 Kecamatan Cikande Kabupaten Serang, Banten, terbuka dalam menjalankan rekonstruksi, pada Rabu, 8 Agustus 2018.

Keterangan yang disampaikan pun konsisten, terutama saat ditanya alasan membunuh balita majikannya.  

"Kondisi pelaku baik dan sangat kooperatif. Ia sangat terbuka saat ditanya alasannya karena kesal ke majikan," ujar Kanit Reskrim Polsek Cikande, Iptu Dadang SW, Kamis, 9 Agustus 2018. 

PRT itu memeragakan 15 adegan bersama saksi tentang bagaimana anak di bawah umur itu dihabisi pembantunya dalam sekejap. Proses rekonstruksi pun berjalan lancar meski sedikit memanas dengan keluarga korban yang hadir. 

Dadang enggan menjawab saat ditanya hasil pemeriksaan psikolog terhadap kondisi kejiwaan pelaku. 

"Kalau itu Polres, karena kami sudah melimpahkan semuanya ke Polres Serang," ujarnya. 

Hanya saja, Dadang menjelaskan dalam rekonstruksi tersebut Sutihati, ibu korban tidak hadir. Alasannya, Sutihati tak kuasa menahan sedih dengan peristiwa yang merenggut nyawa anaknya tersebut. 

"Ibu korban tidak dateng karena tidak kuasa dan masih berkabung," ujarnya. 

Ia juga mengakui kalau situasi rekonstruksi itu sempat memanas. Pemicunya adalah kekesalan keluarga korban begitu melihat pelaku yang mempraktekan adegan pembunuhan. 

Namun situasi itu bisa segera ditangani polisi dalam waktu tak beberapa lama, hingga akhirnya proses rekonstruksi berlangsung kondusif. 

"Keluarga yang menyaksikan sempet marah, dan minta diproses secara hukum. Warga juga sempat berteriak pembunuh... pembunuh...Tapi akhirnya bisa direda," ujarnya. 

Adegan paling sadis dalam rekonstruksi itu diperagakan pelaku saat menganiaya balita di kamar mandi. Di ruangan itu, korban sedang bermain air dan pasta gigi. Pelaku langsung masuk ke kamar mandi dan melayangkan pukulan ke ke bagian tangan dan dagu korban. 

Seolah ingin melampiaskan emosinya, tersangka lalu mengangkat badan korban menggunakan kedua tangannya. Kemudian, tersangka menenggelamkan kepala korban dengan posisi kaki berada di atas atau terbalik ke dalam ember setinggi 50 cm. 

Ember tersebut sudah berisi air setengahnya. Tersangka menenggelamkan korban hingga tubuh korban tidak bergerak lagi.

Setelah dari kamar mandi, tersangka lalu pergi ke kamar orang tua korban atau majikannya tanpa mengunci pintu majikannya.

Reporter: Rohmayanti Adhe
Redaktur: Syahrul Munir
KOMENTAR
500/500