Rilis pabrik pembuat pil PCC di kawasan Cipondoh, Tangerang, Banten. Foto: Rizky Adytia/Kriminologi.id

Kronologi Penggerebekan Pabrik Pil PCC Kedok Pakan Ternak di Tangerang

Estimasi Baca:
Senin, 6 Ags 2018 17:18:47 WIB

Kriminologi.id - Pengungkapan gudang dan pabrik pembuatan obat-obatan terlarang jenis Paracetamol, Caffeine, Carisoprodol (PCC) yang berada di kawasan Cipondoh, Tangerang, Banten, bermula lantaran kecurigaan petugas Bandara Soekarno-Hatta. 

Awal mula pengungkapan pembuatan ratusan ribu pil PCC itu saat petugas Bandara Soekarno-Hatta mencurigai dua paket yang menggunakan kardus dengan tujuan Makassar, Sulawesi Selatan. Dengan kecurigaan itu, petugas bandara kemudian berkoordinasi dengan polisi untuk memeriksa kedua paket dengan menggunakan x-ray, pada Kamis 12 Juli 2018.

Setelah diperiksa, barulah dua paket kardus itu diketahui berisi belasan ribu butir pil PCC yang telah dikemas rapih dan dikamuflaskan dengan sebagai pakan ternak.

"Kami temukan sekitar 17 kantong yang tiap kantongnya berisi seribu butir. Kemudian kita cek ternyat obat-obatan itu adalah pil PCC yang merupakan narkotika golongan 1," ucap Kapolres Bandara Soekarno-Hatta, Kombes Victor Togi Tambunan di pabrik pembuat PCC di kawasan Cipondoh, Tangerang, Banten, Senin, 6 Agustus 2018.

Setelah mengetahui isi paket itu berupa ribuan butir pil PCC, polisi segera memeriksa data pengiriman paket itu. Dari pemeriksaan diketahui pengirim dua paket bernama Helsi Safiri dan Renita. 

Kemudian, polisi langsung begerak ke kota Makassar untuk menyelidiki penerima kedua paket. Tak butuh waktu lama, polisi berhasil mengidentifikasi penerima paket yang diketahui berinisial AMR. Berbekal informasi identitas, polisi menangkap AMR di kediamannya.

"Kami tangkap AMR di kediamannya di Makassar. Kemudian kami periksa, dari pemeriksaan itu AMR mengaku mendapat kiriman itu dari Edy Junaedi yang mendapat perintah dari Yandi Oktavianus. Namun, kedua orang ini masih buron ya," kata Togi. 

Rilis kasus penyelundupan pil PCC Berkedok Pakan Hewan. Foto: Ist/Kriminologi.id
Rilis kasus penyelundupan pil PCC Berkedok Pakan Hewan. Foto: Ist/Kriminologi.id

Setelah menangkap AMR, polisi kemudian menelusuri identitas pengirim paket yang bernama Helsi dan Renita. Dalam penelusuran diketahui kedua nama itu adalah anak dan istri dari Ayub yang bertugas sebagai pengirim paket berisi pil PCC kepada pemesan.

Akhirnya, Ayub berhasil ditangkap di kediamannya yang berada di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan. Namun, usai ditangkap Ayub mengaku dalam pengiriman itu dirinya tak bekerja sendirian. Ayub dibantu dua rekannya yang berinisial DK dan IR.

"Setelah menangkap Ayub, kami juga menangkap DK di kawasan Cilandak dan IR di cafe tempatnya bekerja karena saat penangkapan yang bersangkutan itu sedang tidur," kata Togi.

Selanjutnya, Ayub, DK dan IR kembali di periksa. Dari pemeriksaan ketiganya diketahui pemasok pil PCC itu adalah dua orang berinisial SY dan SL. Polisi pun mengakap keduanya. SY ditangkap di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Sementara SL ditangkap di kawasan Bekasi, Jawa Barat. 

Sayangnya, setelah keduanya ditangkap barulah diketahui sosok pemasok ribuan pil PCC adalah Tarlani (40) yang juga pemilik pabrik dan gudang pil PCC. Dengan informasi itu, polisi langsung menuju gudang dan pabrik yang berada kawasan Cipondoh, Tangerang, Banten.

Dalam penggerebekan itu, selain mengakap Tarlani, polisi juga mengakap dua orang karyawannya berinisial RN dan AF yang kala itu tengah beristirahat di lantai dasar pabrik.

"Dari penggerebekan itu kami temukan ribuan bahkan jutaan pil PCC dengan total berat 1,2 ton. Dari penangkapan itu kami kembali melakukan pengembangan untuk menangkap pemasok bahan baku pembuatan PCC," ucap Togi.

Dalam pengembangan itu, polisi berhasil mengidentifikasi sosok pemasok bahan baku berinisial MY yang berada di Perumah Citra Garden, Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat. Selanjutnya, polisi langsung menggerebek kediamannya dan ditemukan berbagai bahan dasar pembuatan jamu.

"Kami temukan berbagai bahan baku pembuatan jamu ya. Tapi sekarang masih kita kembangkan untuk menangkap dua orang yang masih buron," kata Togi. 

Reporter: Rizky Adytia
Redaktur: Djibril Muhammad
KOMENTAR
500/500