Dok. Kebakaran hutan dan lahan. Foto: RRI

MA Tolak Kasasi 3 Perusahaan Pembakar Hutan, Ganti Rugi Ratusan Miliar

Estimasi Baca:
Sabtu, 8 Sep 2018 21:00:23 WIB

Kriminologi.id - Mahkamah Agung (MA) menolak kasasi tiga perusahaan perkebunan yang terbukti lalai dan berdampak terhadap terhadap kebakaran hutan dan lahan. Ketiganya diwajibkan membayar pemulihan lingkungan.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui rilis yang dikirim kepada media mengatakan, Mahkamah Agung pada 28 Agustus 2018 lalu telah memutuskan PT Jatim Jaya Perkasa (PT JJP) bersalah dan membayar biaya pemulihan sebesar Rp 491 miliar. PT JJP adalah perusahaan perkebunan sawit yang dituntut membakar dan merusak 1.000 ha lahan di Kecamatan Kubu Babusalam, Kabupaten Rokan Hilir, Riau.

Tanggal 10 Agustus 2018, MA juga menolak kasasi PT Waringin Agro Jaya (PT WAJ) dan mengabulkan gugatan KLHK senilai Rp 639,94 milyar PT WAJ dituntut KLHK karena menyebabkan kebakaran pada lahan seluas 1.802 ha di Kabupaten Ogan Komering Ilir dan Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan.

Berselang beberapa hari tepatnya tanggal 15 Agustus 2018, Majelis Hakim Tinggi Banjarmasin Kalimantan Selatan juga memutuskan PT Palmina Utama bersalah serta wajib membayar ganti rugi dan biaya pemulihan Rp 183,7 miliar.

"Kami sangat mengapresiasi Majelis Hakim Mahkamah Agung dan Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Banjarmasin. Putusan ini memberikan keadilan lingkungan bagi masyarakat dan lingkungan hidup itu sendiri,” kata Dirjen Penegakan Hukum KLHK, Rasio Ridho Sani dilansir Anadolou, Sabtu, 8 September 2018.

Dengan putusan ini kata Rasio mencerminkan Hakim memegang prinsip in dubio pro natura, atau keberpihakan kepada lingkungan hidup.

"Putusan ini patut diapresiasi, semoga dapat meningkatkan kepatuhan hukum kalangan korporasi, demi masa depan lingkungan hidup Indonesia yang lebih baik," kata Rasio.

Sementara itu, KLHK masih menunggu proses eksekusi untuk dua keputusan pengadilan yang sudah final dari kasus kebakaran hutan oleh PT Merbau Pelalawan Lestari (Riau) dan PT Kalista Alam (NAD).

Berdasarkan catatannya Dari tahun 2015 sampai sekarang, kata Rasio sudah ada 510 kasus pidana LHK dibawa ke pengadilan oleh penyidik Gakkum KLHK.

Selain itu hampir 500 perusahaan yang tidak patuh telah dikenakan sanksi administratif, dan puluhan lainnya yang dinilai lalai menjaga lahan digugat secara perdata.

"Sepanjang tahun 2015-2017, total putusan pengadilan yang dinyatakan inkracht untuk ganti kerugian dan pemulihan (perdata), mencapai Rp17,82 Triliun," tambah dia.

Sedangkan untuk nilai pengganti kerugian lingkungan di luar pengadilan (PNBP) senilai Rp36,59 miliar. Angka ini menjadi yang terbesar dalam sejarah penegakan hukum lingkungan hidup di Indonesia.

Redaktur: Reza Yunanto
KOMENTAR
500/500