Dok. Zaini Misrin, TKI yang dieksekusi mati di Arab. Foto: Ist/Kriminologi.id

Misteri Tangisan Bayi Mengerikan Jelang Eksekusi Mati TKI Zaini Misrin

Estimasi Baca:
Rabu, 21 Mar 2018 15:35:17 WIB

Kriminologi.id - Detik-detik terakhir jelang eksekusi mati Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Bangkalan, Madura, Jawa Timur, Muhammad Zaini Misrin Arsyad di Arab Saudi pada Minggu, 18 Maret 2018 menyisakan banyak cerita. Misteri tangisan bayi pecah di kediaman Zaini Misrin sehari menjelang eksekusi mati. Bayi berusia enam bulan itu adalah cucu Zaini dari anaknya bernama Saiful Toriq. Tangisan bayi mengerikan itu terjadi usai sang kakek Zaini Misrin memberikan kabar kepada anaknya melalui telepon, Sabtu, 17 Maret 2018 atau sehari jelang eksekusi mati. 

Dalam pembicaraan dengan Saiful, Zaini berpesan agar keluarga bersabar. Dirinya juga mengabarkan akan pulang ke tanah air. Namun, pembicaraan singkat itu membuat perasaan Saiful tak karuan. Kegelisahan hati sang ayah ternyata menyetrum ke balitanya. Anaknya Saiful yang merupakan cucu Zaini menangis mengerikan. Padahal bocah berusia enam bulan itu tak pernah menangis seperti itu.

"Sebelumnya anak saya tidak pernah menangis seperti ini, tapi Sabtu malam, dia nangis terus dan tidak bisa tidur, meski sudah diberi susu," ujar Saiful Toriq, ketika ditemui Antara di rumahnya di Bangkalan, Madura, Selasa, 20 Maret 2018.

Awalnya, Saiful mengaku tak memiliki pikiran bahwa akan dilakukan eksekusi mati terhadap ayahnya, terlebih pada Sabtu siang juga masih bertukar informasi melalui telepon. Dalam komunikasinya, Saiful menjelaskan ibu akan berangkat ke Arab Saudi. 

"Kemudian Abah juga minta tolong doanya dan bersabar karena pasti pulang. Namun, kenyataannya beda," ucapnya.
 
Selain Saiful, Zaini pun mengirmkan pesan terakhir pada anak bungsunya, Mustofa Kurniawan. Pesan yang disampaikan kepada si bungsu itu tak berbeda dengan yang dibicarakan ke Saiful. Zaini mengabarkan bahwa ibunya berangkat ke Arab Saudi untuk kembali bekerja setelah cuti sekitar tiga bulan di kampung halaman. Tidak banyak yang dibicarakan dalam telepon dengan orang tuanya itu. Alasannya, pembicaraan singkat sekitar satu sampai dua menit itu untuk menghindari kecurigaan polisi Arab Saudi.  

Lantas, keesokan harinya, Minggu, 18 Maret 2018, keluarganya mendapat kabar dari pemerintah telah dilakukan eksekusi terhadap ayahnya, termasuk mendapatkan kiriman foto dari sang paman bergambar makam ayahnya.

TKI asal Bangkalan, Madura, Muhammad Zaini Misrin Arsyad dieksekusi mati di Arab Saudi pada Minggu, 18 Maret 2018. Misrin ditangkap polisi Arab Saudi pada 13 Juli 2004. Selama di Arab Saudi, Misrin bekerja sebagai sopir pribadi. Ia ditangkap dengan tuduhan membunuh majikannya bernama Abdullah bin Umar Muhammad Al Sibdy. 

Misrin kemudian divonis hukuman mati pada 17 November 2018. Namun, Konsulat Jenderal RI Jeddah baru menemui Misrin untuk pertama kalinya di penjara tahun 2009. Kepada KJRI Jeddah, Misrin mengaku dipaksa mengakui perbuatan pembunuhan terhadap majikannya dan mendapat tekanan dari polisi Arab Saudi.

Eksekusi hukuman mati terhadap Misrin dilakukan pada Minggu, 18 Maret 2018. Namun, menurut Kementerian Luar Negeri, otoritas Arab Saudi sama sekali tidak menyampaikan pemberitahuan mengenai eksekusi tersebut.

Hukuman mati Misrin ini mendapat reaksi keras di tanah air, baik oleh lembaga pemerhati TKI dan DPR RI. Mereka meminta agar pemerintah segera melayangkan nota protes ke pemerintah Arab Saudi. Negara kaya minyak itu juga dituding melanggar HAM karena mengabaikan Peninjauan Kembali (PK) yang diajukan pemerintah Indonesia.

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan pemerintah sudah melakukan upaya hukum secara masksimal untuk membantu Misrin agar lolos dari hukuman mati. Kalla mengatakan, Zaini bisa lolos dari hukuman mati jika keluarga korban memaafkan perbuatannya. 

"Pemerintah sudah banyak mengusahakan banyak hal. Dia kan (kasus) pembunuhan, dan di sana kalau pembunuhan itu hanya bisa dimaafkan oleh keluarga. Nah, kalau keluarganya tidak mau memaafkan, ya sudah tidak bisa lagi," kata Kalla di Kantor Wapres, Jakarta, Selasa, 20 Maret 2018. SM

KOMENTAR
500/500