Ilustrasi: Hukum Cambuk Foto: Pixabay

Nenek Penjual Miras di Aceh Pilih Hukum Cambuk karena Cepat Selesai

Estimasi Baca:
Selasa, 7 Ags 2018 17:05:15 WIB

Kriminologi.id - Seorang nenek penjual miras bernama Dippos Boru Nainggolan (56) memilih hukuman cambuk ketimbang melewati proses peradilan umum. Nenek Dippos mengaku memilih hukum cambuk karena tak ingin persoalan yang dihadapinya terlalu lama di pengadilan. 

Dippos ditangkap karena menjual minuman keras di Gampong Jawa, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, Aceh. Sesuai Pasal 16 Ayat (1) Qanun Aceh No. 6/2014, ia menjalani hukuman cambuk sebanyak 20 kali.

Akan tetapi, karena telah menjalani masa penahanan selama 102 hari, hukumannya sebanyak 17 kali.

"Walaupun saya beragama nasrani, tetapi saya memilih lebih baik dicambuk saja sesuai dengan syariat Islam," kata Dippos di Stadion Tunas Bangsa, Lhokseumawe, Selasa, 7 Agustus 2018. 

Selain Dippo, hukuman cambuk juga dijatuhkan kepada tiga pelanggar syariat lainnya. Tiga pelanggar tersebut, dua di antaranya kasus pelecehan seksual. Satu kasus lainnya menyimpan dan menjual minuman keras (khamar).

Joy M. Nur, pelanggar Pasal 46 Qanun Aceh Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat, menjalani hukuman cambuk sebanyak 30 kali. Joy M Nur merupakan pelaku pelecehan anak.

"Akan tetapi, karena telah ditahan selama 135 hari, terhukum dikurangi uqubat cambuk sebanyak 4 kali. Dengan demikian, jumlah hukum cambuk sebanyak 26 kali," kata Kasi Pidum Isnawati.

Sementara itu, Bahrum yang melanggar Pasal 47 Qanun Aceh No. 6/2014 dihukum cambuk sebanyak 25 kali. Terhukum hanya menjalani hukum cambuk sebanyak 22 kali karena dikurangi dengan masa tahanan selama 95 hari.

Terhukum lainnya terlibat dalam kasus minuman keras. Aisyah, pelanggar Pasal 16 Ayat (1) Qanun Aceh No. 6/2014, dijatuhi hukuman cambuk sebanyak 25 kali.

Karena ditahan selama 102 hari, kata Isnawati, hukuman cambuk terhadap terhukum dikurangi sebanyak 3 kali. Dengan demikian, Aisyah dicambuk sebanyak 22 kali.

Penulis: Marselinus Gual
Redaktur: Syahrul Munir
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500