Ilustrasi hukuman mati. Ilustrasi: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Pemerintah Diminta Tak Menunda Eksekusi Terpidana Mati Bandar Narkoba

Estimasi Baca:
Jumat, 3 Ags 2018 17:00:51 WIB

Kriminologi.id - Pakar Hukum Pidana dari Universitas Bung Karno, Azmi Syahputra, mengatakan eksekusi mati jilid IV terhadap terpidana kasus narkoba harus segera dilakukan. Pemerintah diminta tak menunda, mengingat peredaran narkoba semakin masif karena pelakunya masih bisa mengendalikan bisnis haram tersebut dari dalam lembaga pemasyarakatan atau lapas. 

"Jadi, tidak ada alasan apapun lagi, seharusnya segera dilaksanakan hukuman mati," kata Azmi di Jakarta, Jumat, 3 Agustus 2018.

Azmi mengatakan, dirinya menyoroti belum terlaksananya eksekusi mati itu semakin membuktikan pokok permasalahannya terletak pada orang-orang atau lembaga pelaksana hukuman mati tersebut. Selain itu, Azmi juga menyoroti imbas kebaikan regulasi RKUHP bila nanti disahkan. 

“Karena dalam RKUHP hukuman mati dapat diubah dengan menunggu 10 tahun. Bagi mereka (terpidana mati) yang berkelakuan baik selama 10 tahun, hukuman mati dapat diubah dengan hukuman penjara maksimal,” kata Azmi. 

Trik tersebut, kata dia, hanyalah akal-akalan dan dapat saja terjadi penyalahgunaan kewenangan di masa jeda saat tidak dilaksanakan hukuman mati. 

Azmi mengatakan, perlunya eksekusi mati dilaksanakan karena modus operandi bandar narkoba semakin sistematis, terstruktur, masif di semua kalangan anak bangsa.

Hal tersebut tentu membahayakan keamanan nasional bangsa. Karena itu, menurut dia, saatnya pemerintah melalui Jaksa Agung bertindak tegas.

“Sekali lagi, ini masalah komitmen, keberanian untuk menyelamatkan generasi bangsa Indonesia dari bahaya narkoba,” katanya.

Berdasarkan catatan Kejaksaan Agung, sepanjang 2015 sampai 2018, sebanyak 18 terdakwa hukuman mati kasus narkoba telah dieksekusi.

Eksekusi terbagi dalam tiga tahap atau jilid. Jilid 1, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran (WN Australia anggota Bali Nine), Raheem Agbaje Salami, Sylvester Obiekwe Nwolise, Okwudili Oyatanze (WN Nigeria), Martin Anderson (Ghana), Rodrigo Galarte (Brasil) dan Zainal Abidin (Indonesia).

Jilid 2, sebanyak enam terpidana mati, yakni, Ang Kiem Soei (WN Belanda), Marco Archer (Brasil), Daniel Enemuo (Nigeria), Namaona Denis (Malawi), Rani Andriani (Indonesia) dan Tran Bich Hanh (Vietnam). Kesemuanya kasus narkoba.

Jilid 3, sebanyak empat terpidana mati, Freddy Budiman (WN Indonesia), Seck Osmane (Nigeria), Humprey Jefferson Ejike (Nigeria) dan Michael Titus Igweh (Nigeria). RZ

Penulis: Tito Dirhantoro
Redaktur: Reza Yunanto
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500