Dok. Pengungsi Rohingya di Myanmar, Foto: Twitter Al Jazeera English

Penggembala Rohingya Tewas Dekat Sungai, Belasan Hewan Ternak Raib

Estimasi Baca:
Senin, 3 Sep 2018 12:00:49 WIB

Kriminologi.id - Seorang penggembala ternak Rohingya bernama Azizul Haque dilaporkan tewas di tangan kelompok Buddhis. Pria berusia 47 tahun itu dibunuh di sebuah sungai di dekat Kota Kyauktaw di sebelah utara Negara Bagian Rakhine saat tengah menggembalakan ternak.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Organisasi Nasional Arakan Rohingya (ARNO), Nurul Islam. Tak hanya membunuh Haque, 15 hewan ternak miliknya pun dicuri oleh polisi dan orang-orang di Rakhine pada Minggu, 2 September 2018 waktu setempat.

Selain itu, pembunuhan juga menimpa seorang pria bernama Assauddin. Jasad pria berusia 25 tahun itu ditemukan di sebuah parit di dekat kota yang sama. Assauddin dibunuh setelah melakukan perjalanan ke desa lain pada Jumat, 31 Agustus 2018 untuk membeli obat ibunya yang sakit. 

“Pembunuhan semacam ini adalah fenomena yang biasa terjadi di Negara Bagian Rakhine dan selalu bebas dari hukum,” kata Islam seperti dikutip Anadolu Agency pada Senin, 3 September 2018.

Menurut Badan Pembangunan Internasional Ontario, sejak 25 Agustus 2017, hampir 24.000 muslim Rohingya dibunuh oleh pasukan negara Myanmar. Lebih dari 34 ribu orang Rohingya dibakar hidup-hidup. Sementara lebih dari 114 ribu lainnya dipukuli. 

Sekitar lebih kurang 780 wanita dan gadis-gadis Rohingya diperkosa oleh polisi dan tentara Myanmar. Kemudian lebih dari 115 ribu rumah milik warga Rohingya dibakar dan 113 ribu lainnya dirusak.

Menurut catatan PBB, warga Rohingya merupakan orang-orang yang paling teraniaya di dunia. Pasalnya, mereka telah menghadapi sejumlah serangan sejak kekerasan komunal meletus pada 2012 dan menewaskan puluhan jiwa.

Kekerasan yang menimpa Rohingya antara lain seperti pemukulan brutal, dan penghilangan paksa yang dilakukan oleh personel militer Myanmar, pemerkosaan massal, dan pembunuhan termasuk bayi dan anak-anak. Dalam laporannya, penyelidik PBB menyatakan pelanggaran ini termasuk kejahatan terhadap kemanusiaan.

Penulis: Tito Dirhantoro
Redaktur: Syahrul Munir
KOMENTAR
500/500