ilustrasi Paspor TKI ilegal. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Polisi Bekuk Sindikat Calo Paspor TKI Ilegal di Dumai, Tarif Rp 4 Juta

Estimasi Baca:
Sabtu, 4 Ags 2018 07:05:12 WIB

Kriminologi.id - Aksi pembuatan paspor bagi TKI ilegal ke Malaysia yang dilakukan JN (35) dan DD (41) terungkap Polres Dumai. Kedua calo itu memasang tarif berkisar antara Rp 3-4 juta per orang.

"Sindikat terungkap setelah polisi menggerebek satu lokasi penampungan TKI ilegal, 30 Juli 2018 di Jalan Kelakap Tujuh Dumai. Dua orang ini diduga terlibat," kata Kapolres Dumai AKBP Restika P Nainggolan, Jumat, 3 Agustus 2018.

Restika melanjutkan, mereka menggunakan data tidak sah untuk memperoleh dokumen perjalanan ke luar negeri. Tarif yang mereka tetapkan, kata Restika, berdasarkan permintaan calon TKI ilegal.

Praktik percaloan paspor dan pengiriman TKI ilegal ini diduga sudah berlangsung lama. Kata Restika, Satuan Reskrim Polres Dumai menemukan 17 warga Indonesia hendak berangkat ke Malaysia secara tidak resmi.

"Mereka juga diduga terlibat dalam pengurusan perjalanan TKI dari daerah asal hingga menuju Malaysia," kata Restika.

Restika menyebut dua pelaku tersebut menjalani peran yang berbeda dalam menjalankan aksinya, yaitu menyediakan tempat penampungan bagi TKI ilegal dan satu lagi, mengurus paspor untuk keberangkatan warga Indonesia ke Malaysia. Kedua tersangka diduga bagian dari sindikat penampungan TKI ilegal.

Petugas, kata Restika, kini sedang menelusuri keberadaan jaringan tersebut, dan mengejar sejumlah anggota mereka yakni seorang perekrut TKI ilegal dan satu orang diduga sebagai otak dari kelompok sindikat ini.

Kepada wartawan, pelaku mengakui alasan melakukan aksi percaloan ini hanya untuk membantu kenalan satu kampung yang hendak berangkat ke Malaysia. 

"Satu pelaku lainnya berada di luar Provinsi Riau, dan buruan kita ini merupakan otak dari penampungan tenaga kerja ilegal di Dumai," ujar Restika.

Dari penangkapan ini, polisi menyita 65 paspor dari tangan dua tersangka.

Penulis: Yenny Hardiyanti
Redaktur: Djibril Muhammad
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500