Rilis pencuriaan data di Polda Metro Jaya Jakarta. Foto: Erwin/Kriminologi,id

Polisi Ciduk Sindikat Pembobol Kartu Kredit Ngaku Petugas OJK

Estimasi Baca:
Jumat, 7 Sep 2018 20:00:24 WIB

Kriminologi.id - Anggota Polda Metro Jaya menangkap sindikat pembobol kartu kredit bermoduskan mengaku petugas pusat penerangan kartu kredit dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Dalam pengungkapan itu, polisi meringkus EA alias Enos (19), EA aloas Eldin (21), F alias Fit (37), BRS (42), F alias Frans (31), dan Y alias Bedu (42).

Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya AKB Polisi Ade Ary menjelaskan, Enos membeli database kartu kredit kepada R yang berstatus buron seharga Rp 500 ribu per 3.000 data pemegang kartu kredit yang dikirim melalui surat elektronik (email).

Enos bersama tersangka Fit menyeleksi data nasabah kartu kredit yang masih aktif dengan cara berbelanja pulsa mencantumkan nomor seri kartu kredit melalui situs "www.sepulsa.com".

"Jika kartu kredit masih aktif akan ada notifikasi permintaan kode OTP," ujar Ary di Jakarta, Jumat, 7 September 2018.

Selanjutnya, Enos menghubungi pemegang kartu kredit menggunakan aplikasi "FAQ Caller" mengatasnamakan pihak bank meminta kode "expired" dan kode CVV untuk alasan membatalkan transaksi yang tidak dibatalkan korban.

Karena alasan itu maka pelaku meminta korban menyebutkan kode OTP yang terkirim melalui pesan singkat telepon seluler pemegang kartu kredit.

Setelah mendapatkan kode OTP, tersangka Enos memberikan kepada F alias Frans dan I (buron) untuk membelanjakan pulsa melalui "www.blibli.co.id, kemudian pulsa yang telah dibeli Enos dijual kepada Y alias Bedu di bawah harga pasaran.

Selain membobol data nasabah kartu kredit, kata dia, sindikat tersebut juga membobol data nasabah kartu debit untuk memindahkan dana yang ada pada rekening korban ke rekening milik W (DPO) yang dilakukan ELDIN untuk membeli database nasabah dari R.

Berdasarkan catatan, tersangka F merupakan residivis kasus serupa pada 2016, sedangkan tersangka B, Eldin, Enos, dan Frans beraksi sejak awal 2017.

"Tersangka melakukan aksinya setiap hari saat jam kerja dengan jumlah korban lebih dari 50 nasabah," ujar AKBP Ary.

Dari tersangka, polisi menyita barang bukti uang tunai Rp 10,200 juta, satu mobil Honda BRV warna merah, 17 telepon seluler, dan kartu telepon seluler.

Para tersangka dikenakan Pasal 378 KUHP tentang penipuan dan atau Pasal 362 KUHP tentang pencurian dengan ancaman hukuman maksimal lima tahun penjara.

Reporter: Erwin Maulana
Penulis: Marselinus Gual
Redaktur: Djibril Muhammad
KOMENTAR
500/500