Pollycarpus Budihari Priyanto, terpidana pembunuhan aktivis HAM, Munir saat tiba di Bapas Bandung, Jawa Barat (29/08/2018). Foto: Arief Pratama/Kriminologi.id

Pollycarpus Bebas, KontraS: Negara Gagal Lindungi Warga dari Ancaman

Estimasi Baca:
Rabu, 29 Ags 2018 12:30:58 WIB

Kriminologi.id - Bebasnya Pollycarpus Budihari Priyanto terpidana pembunuh aktivis Hak Asasi Manusia atau HAM, Munir hari ini, menuai kekecewaan dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan atau disingkat KontraS.

Dengan bebas murninya Pollycarpus ini, KontraS menganggap bahwa negara telah gagal melindungi warganya. 

"Dalam kasus Munir, negara gagal melindungi masyarakatnya dari ancaman kekerasan, khususnya terhadap mereka yang bekerja sebagai pembela HAM," kata Ketua Bidang Advokasi KontraS Putri Kanesia kepada Kriminologi.id, Rabu, 29 Agustus 2018.

Putri melanjutkan pembebasan murni Pollycarpus atas kasus pembunuhan aktivis HAM itu ini merupakan suatu kemunduran. Sebab menurutnya, tahun ini merupakan 14 tahun pembunuhan Munir, tetapi hingga hari ini negara hanya sanggup mengadili pelaku-pelaku lapangan. 

Tokoh HAM Munir
Tokoh Hak Asasi Manusia Munir

"Hari ini, tepatnya dia dibebas murni terkait dengan 14 tahun lalu dia divonis pengadilan. Untuk kami ini suatu kemunduran karena sebentar lagi tanggal 7 September, artinya 14 tahun peringatan meninggalnya Munir tetapi, hingga hari ini Negara hanya sanggup mengadili pelaku-pelaku lapangan dan masih gagal untuk mencari sebenarnya siapa dalang pembunuhan munir," kata Putri.

https://cdn.kriminologi.id/news_picture_thumb/kabid-advokasi-kontras-putri-kanesia-1535514760.jpg

Apalagi, kata Putri, Pollycarpus mendapat remisi belimpah dari negara, yakni 4 tahun 6 bulan, dan 20 hari. Artinya, kata Putri, Pollycarpus hanya menjalani masa hukuman sepertiga saja dari vonis yang dijatuhkan pengadilan.

Menurut Putri, Pollycarpun tidak kooperatif untuk mengungkapkan fakta-fakta terkait kasus pembunuhan Munir. Tahun 2014, mantan pilot Garuda Indonesia itu keluar dari penjara dengan status pembebasan bersyarat.  

"Tahun 2014 dia resmi keluar dari lapas, ini menjadi kritik. Dia itu kita anggap tidak kooperatif karena tidak memberikan informasi lengkap terkait dengan siapa dalang pembunuhan Munir. Sehingga, ketika dia mendapatkan pembebasan bersyarat itu, sepertinya tidak layak," kata Putri tegas.

Pihaknya pun mengaku heran mengapa kasus pembunuhan Munir ini begitu berat terungkap. Ia pun membandingkan dengan kasus-kasus seperti terorisme dan narkoba yang begitu mudah terungkap di publik. 

"Ini kan bicara tentang satu kasus, masak begitu susahnya untuk mengungkap, negara sejauh ini sangat bangga mengungkap kasus terorisme, kasus-kasus narkotika, tapi untuk kasus pembunuhan yang melibatkan fasiltias negara masih saja tidak terungkap, dan ini menjadi satu catatan dan kekecewaan kita atas momentum 14 tahun kasus Munir ini," kata Putri.

Sebelumnya diberitakan, hari ini, Pollycarpus Budihari Priyanto terpidana pembunuh aktivis Hak Asasi Manusia atau HAM, Munir mengakhiri masa bimbingan pembebasan bersyarat.

Terpidana kasus pembunuhan aktivis HAM Munir itu, bebas murni. Kabag Humas Ditjen PAS, Ade Kusmanto mengatakan bebas murni didapat setelah Pollycarpus menjalani masa bimbingan pembebasan bersyarat sejak akhir November 2014.

Reporter: Yenny Hardiyanti
Penulis: Yenny Hardiyanti
Redaktur: Syahrul Munir
KOMENTAR
500/500