Ilustrasi PRT bunuh anak. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

PRT Bunuh Anak Majikan, Penyalur: Sulit Tebak Suka Mukul atau Tidak

Estimasi Baca:
Kamis, 2 Ags 2018 07:05:34 WIB

Kriminologi.id - Pekerja Rumah Tangga atau PRT bernama Sani (29) nekat membunuh anak majikannya secara sadis di kamar mandi rumah. Ratifah Rafsani Ahmad (3), balita tewas ditemukan Sutihati, ibu kandungnya dengan kepala tenggelam dalam ember dan kakinya berada di atas alias posisi terbalik. 

Perilaku kasar dari PRT atau babby sitter tidak bisa terlihat dari tampang luar, kata Yanti dari yayasan penyalur pekerja rumah tangga atau babby sitter di Jakarta, Rabu, 1 Agustus 2018. 

Ia mengatakan, penyalur PRT tidak bisa menjamin perilaku calon pekerjanya PRTatau babby sitternya itu kasar atau tidak.

Hanya saja, pihak yayasan sejak awal telah memberikan penekanan terhadap pada calon tenaga kerja untuk berperilaku jujur dan mematuhi aturan dalam bekerja. 

"Kami kan juga bukan paranormal yang bisa menebak ini suka mukul atau tidak. Hanya saja, kami sudah tekanankan kepada tenaga itu untuk berbuat jujur," ujar Yanti. 

Yanti menyebutkan pengguna jasa mendapatkan kesempatan untuk melihat foto, berbicara langsung melalui telepon atau bertatap muka untuk mempelajari secara singkat dengan calon tenaga yang akan digunakan di rumahnya. 

Pembicaraan atau tatap muka itu menjadi satu-satunya kesempatan untuk mempelajari karakter calon tenaga kerja secara singkat. Setelah menemukan kecocokan, pengguna jasa bisa membawa pulang PRT dengan membayar uang Rp 2,5 juta per orang. 

Selain itu, yayasan juga memberikan garansi kepada pengguna jasa sebanyak tiga kali menukarkan tenaga untuk mengantisipasi ketidakcocokan.  

"Kami menjembatani pengguna jasa untuk bertemu dengan pihak pekerja itu dengan mempertemukan dengan sponsornya," ujarnya. 

Terkait dengan PRT tersebut, kata Yanti, dirinya bekerja sama dengan para sponsor yang dikontrak untuk menyiapkan tenaga pekerja. Sponsor itu sendiri yang bersentuhan langsung dengan calon pekerja hingga bertemu dengan keluarganya. 

"Karena sponsor itu kan yang kontak langsung dengan pekerja dan orang tuanya di sana. Sehingga kami hanya langsung ke sponsornya saja," ujarnya.

Saat ditanya apakah bisa melihat karakter orang secara singkat, Yanti mengatakan tidak mungkin. Ia mengkalaim kalau selama ini yayasannya tak pernah menerima keluhan dengan pekerja yang dibawanya bermasalah.

Reporter: Syahrul Munir
Redaktur: Syahrul Munir
KOMENTAR
500/500