Ilustrasi penganiayaan. Ilustrator: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Replik Sidang Pembunuhan Ustaz Prawoto, Jaksa Tolak Pledoi Asep Maftuh

Estimasi Baca:
Kamis, 9 Ags 2018 19:45:54 WIB

Kriminologi.id - Jaksa penuntut umum menolak seluruh pembelaan atau pledoi terdakwa Asep Maftuh yang terbukti telah membunuh Komando Brigade Persatuan Islam atau Persis bernama Prawoto. Penolakan pledoi tersebut disampaikan dalam sidang lanjutan dengan agenda replik di Pengadilan Negeri Bandung.

“Dengan memperhatikan materi pokok pembacaan pledoi yang diajukan penasihat hukum, intinya kami menolak apa yang disampaikan pengacara,” kata Jaksa Eddi di Bandung, Jawa Barat, pada Kamis, 9 Agustus 2018. 

Eddi mengatakan, pihaknya tetap pada tuntutannya dengan meminta hakim menghukum Asep Maftuh dengan hukuman 6,6 tahun penjara. Asep Maftuh dituntut penjara selama itu karena terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan penganiayaan hingga tewas sebagaimana diatur dalam dakwaan kedua Pasal 351 ayat 3 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

Penganiayaan yang berujung pada kematian tersebut dipicu karena marahnya terdakwa kepada korban yang mengurus tanah tempatnya tinggal. Terdakwa Asep merasa tidak terima dengan sikap korban Prawoto. Terkait hal itu, terdakwa melempari rumah korban dengan tanah. Korban saat itu sempat menegur pelaku.

Tak terima ditegur, terdakwa yang sudah membawa pipa besi langsung memukulkannya ke dinding rumah korban. Korban yang ketika itu melihat aksi terdakwa langsung keluar dan lari. Sayang, korban langsung dikejar terdakwa sambil membawa pipa besi.

Korban kemudian jatuh di pinggir warung dengan posisi terduduk menyandar tembok. Tak menunggu waktu lama, terdakwa langsung menghantamkan pipa besi ke kepala dan wajah korban. 

Saat itu, korban sempat menangkis. Namun, terdakwa terus memukul korban ke arah kening dan kepala hingga mengalami luka sobek dan terluka di beberapa bagian, termasuk tangan kanan. Korban sempat dilarikan ke rumah sakit, namun menghembuskan nafas terakhir sekitar pukul 16.00 WIB.

Eddi menjelaskan, segala pernyataan penasihat hukum yang menyebut ada kesalahan dalam penerapan pasal, sudah dibuktikan di proses persidangan, sehingga meminta hakim melanjutkan ke proses putusan.

"Oleh karena itu, lanjutkan ke tahap putusan," ujarnya. 

Penulis: Tito Dirhantoro
Redaktur: Djibril Muhammad
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500