Ilustrasi tentara Libya yang berjaga-jaga. Bentrokan di Tripoli sudah memakan 40 korban, Foto: Anadolu Agency

Setop Kekerasan, PBB Umumkan Gencatan Senjata di Ibu Kota Libya

Estimasi Baca:
Rabu, 5 Sep 2018 18:05:51 WIB

Kriminologi.id - Persatuan Bangsa-Bangsa mengatakan persetujuan gencatan senjata telah tercapai antara kelompok-kelompok milisi yang sedang bertikai di Tripoli, Ibu Kota Libya.

"Semua pihak setuju mencari resolusi damai untuk mengakhiri krisis, terutama menghentikan kekerasan dan membuat mekanisme pemantauan yang sesuai. Jika semua pihak menunjukkan ketulusan dan penghormatan penuh atas komitmen ini, dialog lebih lanjut akan diadakan oleh Persatuan Bangsa-Bangsa dan akan membicarakan pengaturan keamanan yang sesuai di ibu kota," tulis perjanjian tersebut, seperti yang dilansir dari Kantor Berita Turki Anadolu, Rabu, 5 September 2018.

Pada resolusi damai itu, seluruh milisi setuju untuk menurunkan senjata, menunda serangan lain yang membahayakan kesepakatan gencatan senjata, memastikan masyarakat sipil tidak terancam dan hak asasi manusia dihormati seperti yang tertulis dalam hukum nasional dan internasional. Selain itu, mereka juga setuju untuk melindungi semua bangunan milik pribadi dan publik.

Pada Minggu lalu, pemerintahan gabungan Libya yang didukung PBB menyatakan keadaan darurat di ibu kota dan sekitarnya karena bentrokan yang terjadi antara beberapa milisi yang bertikai.

Keputusan ini muncul setelah 38 orang terbunuh dalam kekerasan yang terjadi di Tenggara Tripoli pada 26 Agustus 2018. Beberapa pemerintahan negara Barat juga menerbitkan pernyataan tertulis berisi imbauan untuk mengakhiri kekerasan di Tripoli.

"Pemerintah Perancis, Italia, Inggris, dan Amerika Serikat menyambut baik hasil mediasi yang dicapai di Tripoli hari ini oleh Misi Dukungan Persatuan Bangsa-Bangsa yang bertujuan untuk mengurangi kekerasan di dalam dan sekitar Tripoli dan memastikan masyarakat terlindungi," kata pernyataan itu.

"Kami menekankan kembali dukungan besar kami kepada Perwakilan Khusus Sekretaris Jenderal PBB Ghassan Salame atas keberhasilannya mengurangi kekerasan dengan cepat dan berkelanjutan di Ibu Kota Libya, yang merupakan langkah penting menuju proses politik yang sesuai dengan Rencana Aksi Persatuan Bangsa-Bangsa."

Libya terjebak dalam kekacauan sejak 2011 ketika pemberontakan berdarah yang dibekingi NATO mengakibatkan tewasnya Muammar Qaddafi setelah lebih dari empat dekade berkuasa.

Sejak itu, kekuatan politik Libya pecah menjadi dua. Satu di Tobruk dan yang lain di Tripoli. Kemudian, kelompok-kelompok milisi dengan persenjataan lengkap mulai bermunculan.

KOMENTAR
500/500