Ilustrasi bom molotov, Foto: Pixabay

Teror Bom Molotov di Rumah, Kapitra Ampera Ngaku Sering Dapat Ancaman

Estimasi Baca:
Selasa, 7 Ags 2018 07:00:33 WIB

Kriminologi.id - Mantan pengacara Rizieq Shihab, Kapitra Ampera mengaku sering merima beragam ancaman sebelum insiden pelemparan molotov di rumahnya.

Ancaman yang datang itu berupa pesan melalaui whatsapp, lalu lalang orang tak dikenal di depan rumahnya hingga pria bertato yang menanyakan dirinya. 

Meski telah menunjukkan pesan dari whatsapp atau WA bernada ancaman, namun polisi belum menyimpulkan adanya keterkaitan dengan teror molotov di rumahnya. 

"Saat ini kita sudah bekerja sama dengan puslabfor (pusat laboratorium forensik) untuk mengolah dan menganalisis barang bukti," ujar Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Pol Indra Jafar, Senin, 6 Agustus 2018. 

Indra mengatakan pihaknya telah menyisir di sekitar rumah politikus PDI Perjuangan dengn melakukan olah tempat kejadian perkara atau TKP. Aksi pelemparan bom molotov ke garasi rumah Kapitra, Senin, 6 Agustus 2018 sekitar pukul 19.00 WIB.

Polisi telah mengamankan dua bom molotov yang dibuat dengan mengisi bensin di dalam botol minuman berenergi. 

"Kita saat ini masih mendalami saksi-saksi, dan memeriksa semua alat bukti yang ada untuk mengungkap pelakunya," tambahnya.

Indra menjelaskan, sebelum melakukan aksinya, pelaku terlihat telah melakukan penyisiran di depan TKP. 

"Ini (jalanan depan rumah Kapitra) memang jalur umum. Ada beberapa motor yang mampir melihat-lihat. Ada yang pergi, lalu kembali melihat lagi, dan dua motor itu pergi lalu balik, dan langsung melakukan eksekusi (pelemparan bom molotov," jelas Indra.

Kapitra menduga, serangan itu terjadi sejak ia memutuskan bergabung menjadi kader PDIP. "Ya (setelah bergabung ke PDIP), ada orang yang mondar-mandir. Ada juga orang bertato yang datang ke masjid, menanyakan diri saya dari orang lain," kata Kapitra menerangkan jenis ancaman yang ia terima saat menjadi anggota partai. 

Dalam satu minggu terakhir, ia mengaku banyak orang tidak dikenal yang bertanya mengenai dirinya ke orang-orang di masjid. 

"Pasti ada kaitan-kaitan (serangan bom) dengan pilihan politik. Saya masuk PDIP karena ingin menyampaikan kebenaran. Tampaknya, ada satu statement (pernyataan) saya kemarin yang buat orang berang," terang Kapitra.

Redaktur: Syahrul Munir
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500