Pasukan Israel menghalau para demonstran Palestina menggunakan gas air mata selama protes, yang diselenggarakan untuk menandai peringatan 70 tahun Nakba. Foto: Anadolu

Wanita Paramedis Kritis, Bentrokan Tentara Israel dan Warga Palestina

Estimasi Baca:
Sabtu, 1 Sep 2018 13:05:57 WIB

Kriminologi.id - Bentrokan tentara Israel dan warga Palestina mengakibatkan korban cedera sebanyak 180 orang, di antaranya wanita paramedis (20) dan seorang anak laki-laki (10) mengalami kritis. 

Peristiwa itu terjadi di perbatasan antara bagian timur Jalur Gaza dan Israel pada Jumat, 31 Agustus 2018. Sebanyak 59 orang dibawa ke rumah sakit. 

Beberapa saksi mata mengatakan, ratusan pemuda Palestina berkumpul di bagian timur Jalur Gaza di dekat perbatasan dengan Israel, pada Sabtu pagi. Mereka menyerukan diakhirinya blokade yang diberlakukan terhadap daerah kantung itu sejak 2007.

Mereka juga melepaskan puluhan balon dari bagian timur Jalur Gaza ke dalam wilayah Israel. Mereka juga memotong dan menarik kawat berduri pagar keamanan perbatasan. Sebagai reaksi, tentara Israel menembakkan tabung gas air mata dan peluru aktif ke arah demonstrasi.

Akibat tabung gas air mata itu, beberapa sumber medis dan paramedis mengatakan puluhan orang mengalami sesak nafas setelah menghirup gas tersebut, dan lima orang ditembak serta mengalami cedera akibat peluru yang dilontarkan tentara Israel.

Pada pagi hari yang sama, Gerakan Perlawanan Islam (HAMAS) melalui pengeras suara menyerukan kepada warga agar bergabung pada Jumat ke-23 kegiatan anti-Israel bertajuk "Pawai Akbar Kepulangan".

Pemimpin senior HAMAS Khalil Al-Hayya mengatakan protes mingguan tersebut hanya akan berhenti ketika Israel mencabut pengepungannya atas Jalur Gaza.

"Pawai anti-Israel yang dimulai pada 30 Maret, sejauh ini telah menewaskan 171 orang Palestina dan melukai lebih dari 18.000", kata Kementerian Kesehatan di Jalur Gaza.

Israel menarik tentara dan permukiman Yahudi dari Jalur Gaza pada 2005 tapi telah membangun permukiman di Tepi Barat Sungai Jordan. Aksi ini membuat marah warga Palestina yang memandangnya sebagai penghalang bagi harapan mereka untuk mendirikan negara merdeka.

Babak terakhir pembicaraan perdamaian Palestina-Israel terhenti pada 2014. Pada Selasa, pengadilan Israel memutuskan untuk memberi pengakuan hukum bagi pembangunan permukiman tanpa izin Pemerintah Israel di tanah milik pria orang Palestina.

Banyak negara memandang, semua permukiman yang dibangun di wilayah yang direbut Israel dalam Perang Timur Tengah 1967 adalah tidak sah. Israel mempermasalahkan pendapat masyarakat internasional itu.

Penulis: Yenny Hardiyanti
Redaktur: Syahrul Munir
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500