Ilustrasi pembacokan. ilustrasi: Kriminologi.id

Wartawan Kritis Dibacok karena Tak Terima Tunangannya Dilecehkan

Estimasi Baca:
Senin, 6 Ags 2018 17:50:00 WIB

Kriminologi.id - Seorang wartawan media cetak bernama Wido (35) mengalami luka di beberapa bagian tubuhnya akibat penganiayaan yang dilakukan Roni, temannya sendiri. Pembacokan itu terjadi lantaran korban tidak terima calon istri atau tunangannya dilecehkan oleh pelaku.

Kepada Kriminologi.id, Wiri adik kandung Wido menjelaskan, pembacokan terhadap kakaknya berawal itu ketika calon istrinya berinisial S dilecehkan oleh Roni. Kejadian itu berlangsung di persimpangan lampu merah Cikaret, Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Sabtu, 4 Agustus 2018.

Menurut Wiri, penganiayaan itu berawal saat korban bersama tunangannya bertemu di sebuah kafe yang terletak di kawasan Cikaret. Saat sampai di kafe tersebut, calon istri korban kemudian pergi ke mobil untuk mengambil obat.

"Pas dia lagi di mobil mau ngambil obat, tiba-tiba si pelaku datang sambil ngelus-ngelus rambut tunangan abang saya. Dia ngelus-ngelusnya sambil bilang gini, 'eh dipanggil si bos tuh', saya sendiri enggak tahu yang dimaksud si bos itu siapa, yang jelas pas lagi ngelus dia sambil nunjuk ke arah cafe," ujar Wiri, Senin, 6 Agustus 2018.

Merasa kaget lantaran rambutnya disentuh pria lain, korban S kemudian berupaya menepis tangan Roni dan meneriakinya. Sejurus kemudian, ia langsung berlari mendatangi Wido yang sedang berada di kafe.

"Tahu tunangannya digituin, abang saya langsung bangun nyamperin si pelaku, pas diteriakin dia malah kabur ke arah Klinik Salsabila," ujar Wiri.

Wiri menambahkan, ketika menuju Kilinik Salsabila, Roni justru bertemu dengan dua adik iparnya dan menuyuruh mereka membawakan samurai. Tanpa disangka, samurai tersebut ternyata hendak digunakan Roni untuk menyerang Wido. 

"Pas abang saya sama tunangannya lagi jalan ke arah mobil, tiba-tiba dia dipanggil sama si pelaku dari belakang. Tadinya mereka juga belum tahu siapa yang manggil, pas abang saya noleh ke belakang, si pelaku langsung nyabet pundaknya sampai sobek ngeluarin darah," tutur Wiri serius.

Tidak cukup sampai di situ, ketika membacok bagian pundak korban, salah satu adik ipar Roni kembali menyerang korban. Kali ini, mereka berdua mengarahkan senjata tajam itu ke bagian lengannya.

"Pas si pelaku ngebacok pundak abang saya, eh adik iparnya dia yang tadinya sembunyi di dekat Klinik Salsabila langsung dateng lagi bawa samurai. Dua-duanya langsung nyerang abang saya lagi. Tunangannya cuma bisa teriak-teriak," ujar Wiri.

Setelah menyabetkan samurai beberapa kali, Roni dan salah satu adik iparnya langsung melarikan diri menggunakan sepeda motor. Korban kemudian dibawa ke RSUD Cibinong untuk mendapatkan perawatan. Namun, pihak rumah sakit menolaknya dengan alasan tidak sanggup untuk menangani luka korban. Kemudian, korban dirujuk ke RS Fatmawati.

Lagi-lagi, dengan alasan kuota penuh, korban ditolak dan harus dirujuk ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

"Pas nyampe di RSCM, lagi-lagi pihak rumah sakit bilang sudah penuh. enggak bisa langi ditanganin, saya makin panik," ujar Wiri.

Beruntung, di tengah kepanikannya tersebut, Wiri mencoba menghubungi pihak Pusat Penerangan TNI. Akhirnya, korban bisa mendapatkan penanganan di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat.

"Akhirnya, setelah saya menghubungi Kapuspen TNI, nelepon sana-sini abang saya bisa ditangani di RSPAD," tutur Wiri.

Wiri menambahkan, hingga saat ini, kondisi Wido kritis. Beberapa jam ke depan, Wido rencananya akan menjalani tindakan operasi pertama di bagian pundaknya. YH | AS

Reporter: Erwin Maulana
Penulis: Yenny Hardiyanti
Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500