Ilustrasi Uang Palsu, Foto: Kriminologi.id

5 Modus Peredaran Uang Palsu, PSK Pun Jadi Sasaran

Estimasi Baca:
Sabtu, 7 Jul 2018 19:00:57 WIB

Kriminologi.id - Praktik peredaran uang palsu kembali terungkap. Polsek Solok, Sumatera Barat, berhasil membekuk empat pelaku pemalsuan uang pada Minggu, 1 Juli 2018. Dari pengungkapan tersebut, diketahui modus yang digunakan oleh pelaku adalah dengan menggunakan uang palsu sebagai alat transaksi belanja di warung untuk mendapat kembalian uang asli.

Keempat pelaku yang dibekuk antara lain AF (18) pelajar SMKN 2 Aur Gading, JK (15) warga Nagari Limo Koto, Pb dan To. Pelaku berinisial AF diketahui bertugas mengambil gambar dan ukuran uang dari internet, lalu mengedit dan mencetaknya.

Sementara itu, tiga pelaku lainnya bertugas untuk mengedarkan uang tersebut dengan cara membeli rokok di warung-warung kecil. Hasil dari pembelian rokok itu membuat para pelaku bisa mendapatkan kembalian uang asli dari transaksi di warung tersebut.

Pengungkapan peredaran uang palsu bukan kali ini saja. Berbagai pengungkapan yang pernah berhasil dilakukan oleh pihak kepolisian tidak membuat para pelaku jera. 

Peredaran uang palsu terus berulang. Modusnya pun beragam dan dilakukan oleh para pelaku pemalsuan untuk mengedarkan uang palsu miliknya. 

Infografik 5 Modus Peredaran Uang Palsu. Infografik: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Berdasarkan catatan Kriminilogi.id, berikut beberapa modus peredaran uang palsu yang pernah terungkap.

1. Alat Transaksi di Warung

Mengedarkan uang palsu dengan menjadikannya sebagai alat tukar atau bertransaksi di warung merupakan modus yang paling sering dilakukan oleh pelaku. Kebanyakan uang palsu yang digunakan adalah uang pecahan Rp 100 ribu dan Rp 50 ribu. Dengan berpura-pura membeli sesuatu di warung, pelaku dapat memperoleh uang asli dari kembalian transaksi.

Selain kasus di Solok, temuan modus serupa juga pernah terungkap di Karimun, Kepulauan Riau, dan di Temanggung, Jawa Tengah, beberapa waktu yang lalu. Seorang warga Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau, berinisial Is ditangkap kepolisian setempat pada Selasa, 8 Mei 2018. Ia diduga mengedarkan uang palsu pecahan Rp 100 ribu ke warung-warung dan toko kelontong.

Rabu, 21 Maret 2018, dua warga Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, bernama Musman (51) dan Juwaldi Yuwono (57) ditangkap setelah membeli rokok di dua warung di Desa Kembangsari, Kecamatan Kandangan, Jawa Tengah. 

2. Alat Bayar Kencan PSK

Modus mengedarkan uang palsu dengan menggunakannya untuk membayar kencan pekerja seks komersial (PSK) pernah terungkap di Kabupaten Nias, Sumatera Selatan. Pelakunya adalah YL (35), seorang aparatur sipil negara yang berdinas di Pemkab Nias.

Terungkapnya peredaran uang palsu itu bermula ketika pelaku sepakat melakukan kencan singkat dengan korban dengan tarif Rp 1 juta. Kencan itu dilakukan pada Rabu, 13 Juni 2018. Usai berkencan, pelaku membayar korban sesuai angka yang disepakati dengan uang pecahan Rp 100 ribu sebanyak 10 lembar.

Setiba di rumah kosnya, korban melihat kembali uang yang diberikan pelaku. Ia merasa curiga dengan uang yang diberikan adalah palsu. Merasa ditipu, korban langsung melaporkan hal tersebut ke polisi, dan kemudian pelaku berhasil ditangkap dan menjalani pemeriksaan di Mapolres Nias.

3. Penawaran Via Facebook dan Situs Belanja Online

Modus peredaran uang palsu lainnya yang pernah terungkap adalah penawaran melalui Facebook dan situs belanja online. Seperti yang pernah dilakukan oleh Surya Adnan Kasogi alias Yogi Bin Matsinar, warga Kelurahan Bukit Kemuning, Kecamatan Bukit Kemuning, Kabupaten Lampung Utara. Atas tindakannya tersebut, ia dibekuk oleh anggota uni III Krimsus Polres Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Rabu, 13 Mei 2018.

Penangkapan pelaku bermula dari adanya informasi Patroli Cyber terkait adanya kasus peredaran uang rupiah palsu melalui situs Facebook dan situs jual beli online. Kemudian, anggota melakukan penyamaran dan melakukan pemesanan uang rupiah palsu kepada pelaku.

Sejumlah uang palsu yang alat-alat pembuatan berhasil diamankan oleh petugas saat penangkapan dilakukan.

4. Menyelipkan Uang Asli di Bundelan Upal

Modus lainnya yang pernah terungkap adalah menyelipkan uang asli pada bagian teratas dan terbawah di setiap bundel uang palsu. Modus ini terungkap pada Selasa, 27 Maret 2018, ketika dilakukan penangkapan terhadap tiga pelaku pengedaran uang palsu di Kota Bogor.

Penangkapan dilakukan di sebuah rumah kontrakan yang dijadikan tempat mereka bertransaksi. Dalam penangkapan ketiga tersangka itu, polisi menyita uang pecahan Rp 100 ribu palsu dengan nilai Rp 6 miliar.

Pihak kepolisian menemukan uang palsu tersebut dalam satu tas koper besar. Uang-uang palsu tersebut dibundel dengan masing-masing bundel nilainya Rp 100 juta. Uang pada bagian teratas dan terbawah setiap bundel merupakan uang asli dan sisanya palsu.

5. Tip Penjaga Klub Malam

Peredaran uang palsu dengan modus uang tip ke penjaga klub malam terungkap di Kota Banjarmasin Timur, Kalimantan Selatan, pada Minggu, 31 Desember 2017. Uang palsu pecahan Rp 50 ribu dan Rp 100 ribu dengan total Rp 3 juta disita dari empat pengedar yang ditangkap anggota Kepolisian Sektor Kota Banjarmasin Timur.

Pengungkapan kasus ini bermula dari salah satu pelaku yang memberi tip uang ke seorang penjaga klub malam bernama Nashville Pub & Café Hotel Banjarmasin International menggunakan uang palsu. Kondisi klub malam yang gelap dimanfaatkan oleh para pelaku untuk samarkan fisik uang.

Dari kasus ini, empat pelaku diamankan, yakni Reza Abdul Rohim (19), Muhammad Rauhan Fikri alias Ohan (20), Abdullah alias Adul (23) dan Muhammad Zaini Hauli (19). RZ

Penulis: Aditia Tjandra
Redaktur: Reza Yunanto
KOMENTAR
500/500