Consumeaffair.com

Akal-akalan Perusahaan Asuransi Perdaya Nasabahnya

Estimasi Baca:
Selasa, 3 Okt 2017 06:05:22 WIB

Kriminologi.id - Tidak ada satu orang pun yang ingin sakit. Dengan biaya layanan kesehatan yang begitu besar, masyarakat tentu saja enggan memeriksakan dirinya ke rumah sakit. Munculnya perusahaan asuransi kesehatan memberikan angin segar bagi masyarakat. Masyarakat tidak perlu khawatir dengan biaya layanan kesehatan yang sampai mengorek tabungan.

Premi yang dibayarkan oleh klien kepada perusahaan asuransi menjadi semacam tabungan untuk kesehatan. Ketika klien jatuh sakit dan membutuhkan perawatan kesehatan, pihak asuransi akan mengganti biaya perawatannya. Terkuaknya sejumlah keluhan asuransi di Indonesia menjadi tindak pidana mencuri perhatian masyarakat.

Baca: Kasus Penipuan Nasabah, 2 Eks Bos Allianz Diperiksa Pekan Ini

Pasalnya perusahaan asuransi yang terlibat bukan kelas teri atau ecek-ecek. Perusahaan asuransi kesehatan sekaliber Allianz ternyata juga bermasalah dalam memberikan pelayanan terhadap kliennya. Kasus tersebut berawal dari laporan salah satu klien perusahaan asuransi PT Allianz Life Indonesia yang merasa dipersulit saat mengajukan klaim.

Nasabah itu mengklaim, ada peraturan tambahan tentang rekam medis pasien yang harus dilampirkan saat klaim seperti yang diminta pejabat Allianz. Padahal rekam medis pasien bersifat rahasia dan hanya dapat dikeluarkan oleh rumah sakit jika terkait masalah kesehatan pasien. Peraturan ini tidak tertera di dalam buku polis asuransi.

Baca: Berstatus Tersangka, Dua Petinggi Allianz Dicekal ke Luar Negeri

Direktorat Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Metro Jaya telah menetapkan Joachim Wessling yang menjabat Direktur Utama PT Allianz Life Indonesia saat itu dan bekas Manajer Klaim Yuliana Firmansyah sebagai tersangka.

Walaupun kasus Allianz adalah kasus pertama dalam perkara asuransi yang dipidanakan di Indonesia, namun tindak pidana yang melibatkan perusahaan asuransi bukan barang baru di dunia internasional. Menurut Association of Certified Fraud Examiners terdapat enam modus kejahatan yang melibatkan masalah asuransi.

 

#1. Biaya Pertanggungan Asuransi yang Tak Dapat Diklaim

Ini merupakan modus paling sering terjadi di dalam kasus kejahatan yang melibatkan asuransi. Klien akan membayarkan sejumlah dana tertentu kepada pihak perusahaan asuransi dan tanggung jawab perusahaan adalah memberikan dana pertanggungan kepada klien saat klien membutuhkan layanan kesehatan.

Baca: Pidanakan Allianz, YLKI: Itu Upaya Terakhir Konsumen

Seperti yang diduga dilakukan Allianz, salah satu caranya adalah dengan mempersulit klaim, menambah aturan bagi klien yang sebelumnya tidak ada, dan memperberat syarat administratif pencariran dana. Semua ini dilakukan perusahaan untuk menghindar dari tanggung jawabnya untuk memberikan dana pertanggungan kepada klien.

 

#2. Penagihan Biaya Layanan Dipalsukan

Masalah penipuan tidak hanya dilakukan oleh perusahaan asuransi tetapi juga bisa dilakukan oleh klien. Pada modus ini, penipuan dilakukan oleh klien dengan memalsukan keterangan layanan kesehatan yang didapatkannya.

Tidak semua layanan kesehatan masuk dalam pertanggungan asuransi, misalnya saja layanan kesehatan atau pengobatan yang sifatnya eksperimental dan belum mendapatkan persetujuan dari departemen kesehatan. Layanan kesehatan jenis ini misalnya akupuntur, chiropractic, ataupun layanan kesehatan lainnya yang belum diber izin resmi oleh departemen kesehatan.

Baca: Tetapkan Tersangka, Polisi Duga Allianz Tak Cairkan Klaim Nasabah

Klien sering menggunakan modus ini karena merasa bahwa pada dasarnya layanan itu memiliki dampak bagi kesehatan mereka sehingga memasukkan layanan ini dalam kategori layanan kesehatan lainnya saat melakukan klaim dana pertanggungan.

 

#3. Memalsukan Tanggal Layanan

Agen asuransi juga memiliki peluang menipu untuk keuntungan personalnya. Agen akan mendapatkan uang lebih banyak dengan melaporkan pada perusahaan bila dia mengunjungi dua klien yang berbeda di hari yang berbeda pula.

Kenyataannya, para agen asuransi mengunjungi beberapa klien dalam sehari dan melaporkan kunjungan tersebut dilakukan pada hari yang berbeda sehingga uang yang didapatkan agen lebih banyak.

 

#4. Memalsukan Pemberi Layanan

Ini biasanya justru dilakukan oleh pihak penyedia layanan kesehatan. Bisa saja penanganan dilakukan oleh dokter magang ataupun tenaga medis yang sedang kerja praktik, namun dokter tetap yang menandatangani lembar aplikasi asuransi.

Seringkali dokter tetap di rumah sakit tersebut tidak ada di tempat saat tindakan pada pasien dilakukan. Namun, dokter dan pihak rumah sakit mengatakan bahwa dokter magang dan tenaga medis yang sedang praktik tersebut berada di bawah supervisi dokter tetap.

Padahal biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan asuransi untuk dokter magang dan tenaga medis yang sedang praktik lebih kecil dibandingkan dokter tetap. Tetapi ketika dokter tetap yang menandatangani lembar aplikasi, maka perhitungan biaya layanan tersebut tetap didasarkan pada pembiayaan layanan yang dilakukan oleh dokter tetap.

 

#5. Biaya tagihan lebih dari kesepakatan

Modus ini juga biasa dilakukan oleh perusahaan asuransi atau agen-agen asuransi. Seringkali pembayaran polis asuransi dilakukan dengan penarikan langsung dari rekening tabungan (pendebetan langsung) klien setiap bulan.

Klien tidak seluruhnya memperhatikan besaran pemotongan biaya asuransi dari tabungannya. Padahal sering terjadi besaran dana yang dipotong dari tabungan klien lebih besar dibandingkan kesepakatan di dalam polis asuransi. Ketika klien menyadarinya dan menanyakan pada pihak asuransi, mereka akan mengatakan itu biaya administrasi atau biaya lain-lain di luar polis asuransi. Sayangnya, klien tidak dapat mengecek kebenaran biaya tersebut apakah benar biaya administrasi bank atau bukan.

Jika klien tidak menyadarinya, agen ataupun perusahaan juga tidak akan memberitahukan hal tersebut pada kliennya. Padahal seharusnya ini diberitahukan kepada klien sebelum menyepakati pengambilan polis asuransi dengan jangka waktu tertentu.

 

#6. Korupsi dalam bentuk suap

Korupsi yang seringkali dilakukan terkait dengan asuransi adalah bentuk suap. Biasanya agen meminta sejumlah dana tertentu pada klien dengan alasan untuk mempermudah proses klaim dana pertanggungan.

Jika klien menolak memberikan dana tersebut, klaim dana pertanggungan tidak cepat cair dan bahkan gagal dicairkan karena ada masalah-masalah yang tidak jelas. Sehingga klien mau tidak mau akan memberikan dana tersebut kepada agen agar dibantu proses pencairan dana pertanggungan asuransi. BC

KOMENTAR
500/500