Area parkir di belakang mal Grand Indonesia, Foto: Walda Marison/Kriminologi.id

Bisnis Parkir Ilegal Belakang Mal Grand Indonesia Untungnya Jutaan

Estimasi Baca:
Sabtu, 14 Jul 2018 15:35:33 WIB

Kriminologi.id - Penyediaan fasilitas lahan parkir bagi pengunjung untuk menitipkan kendaraan bermotornya sudah menjadi kewajiban yang harus dimiliki oleh setiap pusat perbelanjaan di Jakarta.

Apalagi, para penduduk DKI mayoritas memiliki kendaraan pribadi masing-masing tiap keluarga, terutama sepeda motor. Namun, tampaknya tidak semua pengelola pusat perbelanjaan ramah terhadap pengunjung yang membawa sepeda motor.

Di beberapa pusat perbelanjaan terlihat tidak menyediakan lahan parkir yang nyaman, bahkan ada pusat perbelanjaan yang tergolong mewah di Jakarta tidak menyediakan lahan parkir untuk menitipkan sepeda motor pengunjung.

Akibatnya, para pengunjung "diharuskan" untuk menitipkan kendaraan mereka di parkiran-parkiran liar di sekitar mal tersebut, salah satunya di belakang Mal Grand Indonesia, kawasan Kebon Kacang, Jakarta Pusat.
 
Kriminologi.id mencoba menelusuri kondisi tempat parkir ilegal tersebut dan mencari tahu besaran biaya yang "pengelola" kenakan untuk setiap motornya, serta keuntungan yang bisa diraup oleh pengelola tersebut setiap harinya.

Siang ini, Sabtu, 14 Juli 2018, kami mengunjungi area parkir di belakang Grand Indonesia. Di sini, ada sebuah gedung tua namun kosong yang dijadikan sebagai tempat parkir sepeda motor.

Saat masuk ke area parkir, kami mengendarai motor kopling berukuran besar. Saat hendak memarkir kendaraan ini, seorang petugas parkir langsung menanyakan berapa lami kami akan menitipkan motor di tempat itu. Menurutnya, harga parkir ditentukan oleh ukuran motor dan juga durasi parkir.

"Lama atau bentar, bang? Kalau bentar, taro di luar aja. Motor besar kena 10 ribu ya," ujarnya kepada Kriminologi.id.

Dengan adanya aturan itu, kami pun memarkirkan motor di halaman luar gedung tua itu. Saat kami memasukinya, ternyata di gedung itu tersedia dua bagian area parkir, satu bagian untuk para pekerja di area itu, dan satu lagi untuk pengunjung Grand Indonesia.

Petugas parkir lalu memberikan selebar karcis berwarna biru dengan harga yang tertera di atas kertas itu Rp 10.000. Saat kami telusuri, harga yang dipatok untuk motor besar berbeda dengan motor jenis bebek. Motor bebek dan sejenisnya hanya dikenakan Rp 6.000.

https://cdn.kriminologi.id/news_picture_thumb/5b499cfc86aae-1531550972-0afd7d657f177e8a072a53b2b626c394.jpg

Dari pejual nasi goreng dan mie Aceh di sekitar lahan parkir itu, kami mendapatkan informasi bahwa nilai Rp 10.000 untuk parkir di tempat itu tergolong murah.

"Kalau cuman (Rp) 10 ribu mah murah. Dari pada kita kehilangan (Rp) 10 juta (seharga motor) mending kita ngasih (Rp) 10 ribu. Soalnya kan (Rp) 10 ribu udah bisa parkir 24 jam, mas," kata Putra.

Di lembar karcis parkir itu, tertera tulisan berisi peringatan, "Jika lewat dari 24 jam akan dikenakan denda Rp. 2.000,-" dan "Jika karcis ini hilang akan dikenakan denda Rp. 20.000,-". Di karcis parkir itu juga tertulis nama "HAMIDIN BNPT". 

"Ini (pengelola parkir) yang punya Hamidin mas, dia Haji," tutur Putera.

Menurut Putera, dengan patokan harga parkir Rp 10.000 masih bisa diterima, apalagi jika pengunjung memarkir motor dalam waktu yang cukup lama.

"Ya kalau markirnya lama mah bayar 10 ribu ga papa deh. Tapi kalau cuma sebentar trus bayar 10 ribu, itu yang kerasa mas," katanya.

Putera melanjutkan, area parkir di tempat itu tergolong aman. Sebab, area parkir sudah dilengkapi dengan kamera pengawas atau CCTV. 

"Jadi wajar lah mas harga 10 ribu. Kan ada CCTVnya jadi dijamin aman," katanya.

Menjalankan bisnis pengelolaan parkir, apalagi di kawasan pusat perbelanjaan mewah di kawasan Kebon Kacang, Jakarta Pusat ini, tentu pihak pengelola bisa meraup untung yang besar.

Untung besar itu bisa pengelola dapatkan dari sepeda motor milik puluhan bahkan ratusan karyawan yang bekerja di mal tersebut.

Belum lagi, dari para pengunjung yang selalu datang silih berganti setiap harinya. Kata Putera, laba yang mampu diraih oleh pengelola parkir bisa mencapai jutaan rupiah tiap harinya.

"Bisa sampai jutaan mas. Perhari aja motor udah berapa, trus di kali 10 ribu udah berapa duit tuh," kata Putera.

Tingginya harga parkir di area tersebut, kata Putera, berbarengan dengan harga sewa tanah. Ia mengatakan, pemilik gedung tua itu mematok harga sewa dengan nominal tertentu kepada pengelola parkir.

https://cdn.kriminologi.id/news_picture_thumb/5b499ddedab2a-1531551198-0afd7d657f177e8a072a53b2b626c394.jpg

Meski ia mengetahui bahwa ada uang sewa yang dipatok oleh pemilik gedung tua, namun ia tidak tahu persis berapa harga sewa tersebut. Ia hanya memperkirakan hingga ratusan juga rupiah per tahunnya. 

"Sekitar ratusan juta per tahun mungkin," katanya.

Selain sewa tanah, Putera memaparkan, alasan mematok harga tinggi untuk parkir di sana, karena pengelola juga harus membayar petugas keamanan non seragam yang juga berjaga. Jumlah petugas yang berjaga pun tidak sedikit. Penjagaan, kata Putera, terbagi menjadi dua shift, pagi dan malam. Masing-masing shift, bertugas tiga orang. 

"Masing masing shift tiga orang. Satu orangnya dibayar sekitar (Rp) dua jutaanlah," ucapnya.

Dengan pengamanan yang sedemikian rupa, yakni CCTV dan petugas keamanan berseragam, ia mengaku belum pernah ada tindak pencurian motor di kawasan tersebut.

https://cdn.kriminologi.id/news_picture_thumb/5b499d68865d7-1531551080-0afd7d657f177e8a072a53b2b626c394.jpg

Sejauh pantauan Kriminologi.id, belum ada keluhan dari para pengguna jasa lahan parkir di area tersebut terkait dengan tingginya biaya parkir di sana. Masyarakat seakan memaklumi dan menerima patokan harga tersebut, atau mungkin mereka merasa takut jika harus menentang biaya parkir ini, mengingat tidak ada lahan parkir resmi untuk sepeda motornya. YH

Reporter: Walda Marison
Penulis: Yenny Hardiyanti
Redaktur: Reza Yunanto
KOMENTAR
500/500