barang bukti sabu-sabu, Foto: Antara

BNN Soroti Modus Narkoba Lewat Jasa Ekspedisi

Estimasi Baca:
Kamis, 19 Okt 2017 11:42:50 WIB

Kriminologi.id - Badan Narkotika Nasional Provinsi Bali mengajak perusahaan jasa pengiriman barang untuk mencegah peredaran narkoba karena sebagian pelaku kerap menyelundupkan barang haram itu melalui jasa ekspedisi. Peredaran narkoba melalui jasa pengiriman menjadi salah satu modus pengedar.

"Kami ajak untuk bersama melakukan pencegahan," kata Kepala Bidang Pemberantasan BNNP Bali Ajun Komisaris Besar I Ketut Arta di Denpasar, Kamis, 19 Oktober 2017.

Arta menambahkan, hampir sebagian besar kasus penyelundupan narkoba yang diungkap memanfaatkan perusahaan-perusahaan jasa pengiriman barang yang memiliki cabang banyak di sejumlah daerah. Banyaknya temuan narkoba melalui pengiriman paket karena sebagian besar perusahaan jasa tersebut tidak memiliki alat deteksi narkoba sehingga paket haram itu bisa lolos.

Baca: Brigadir Polisi Jadi Perantara Pengiriman 5 Kg Sabu di Parepare

Pihaknya mengimbau perusahaan jasa pengiriman barang melengkapi usahanya dengan alat pendeteksi narkoba. Sebagian modus yang digunakan biasanya dengan memanfaatkan perantara atau kurir yang bertugas mengambil paket apabila sudah tiba di tempat tujuan. Untuk mengelabuhi petugas, alamat tujuan yang tertera pada paket juga terkadang alamat fiktif.

Seperti yang pernah diungkap oleh BNNP Bali saat menggagalkan upaya penyelundupan lima kilogram ganja kering asal Aceh yang diselundupkan melalui Medan, Sumatera Utara, dengan tujuan Denpasar, 16 Oktober 2017 sekira pukul 09.45 WITA. Ganja tersebut disimpan dalam lima paket yang disembunyikan di dalam CPU komputer. Barang haram itu diambil oleh pelaku berinisial HH, pedagang sate kelahiran Sumbawa, NTB, yang kini diamankan petugas BNN untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

Baca: Bawa Suplemen Isi Ganja, Mantan Tentara Rusia Diciduk

Dari hasil pemeriksaan, HH disuruh mengambil paket tersebut oleh WA yang berada di Lombok, NTB, untuk selanjutnya diduga akan diedarkan di Bali. Sementara itu terkait hasil tes urine, pelaku HH negatif narkoba dan diketahui pelaku mengaku baru pertama kali terlibat dalam peredaran narkoba yang diduga jaringan Medan.

Pada Sabtu, 14 Oktober 2017, juga terungkap pengiriman narkoba melalui jasa pengiriman. 20 bal atau 19 Kg ganja dari Aceh menuju Jakarta berhasil digagalkan. Saat itu, tim Subdit III Ditresnarkoba Polda Aceh menerima laporan dari kantor Pusat JNE di Banda Aceh tentang adanya paket kiriman berisi ganja.

Baca: Tahanan Kendalikan Penjualan Sabu-sabu Asal Cina di Laut

Setelah itu polisi meluncur ke kantor JNE dan memeriksa isi paket. Saat diperiksa, terdapat 20 bal ganja kering yang siap kirim. Barang bukti tersebut selanjutnya diamankan ke kantor Ditresnarkoba Polda Aceh.

Pada paket tersebut, tertera nama pengirim yaitu Maufur dan penerimanya bernama Rhahman. Tujuan pengiriman adalah di Kompleks DPR RI II Jalan Kebon Jeruk Nomor 23 Jakarta Barat.

Modus pengiriman obat terlarang melalui jasa pengiriman juga diungkap Kepolisian Resor Tasikmalaya Kota pada 27 September 2017. Saat itu terungkap peredaran 500 butir obat keras daftar G Tramadol, yang dikirim melalui jasa pengiriman barang JNE. Saat diinterogasi, pelaku mengaku mendapat obat-obatan itu dari Makassar, Sulawesi Selatan. 500 butir Tramadol ini dikirim dari seseorang di Makassar atas pesanan tersangka FF.

Baca: Infografik: Modus Penyelundupan Sabu-Sabu di Indonesia

Tersangka FF mengaku telah dua kali melakukan pemesanan Tramadol secara online. Selain itu, lanjut Adi, obat tersebut untuk dikonsumsi dan dijual kepada teman-temannya.

Pada 5 Juli 2017, Polres Metro Jakarta Pusat menciduk Faisal, saat mencoba mengirimkan narkoba melalui jasa paket pengiriman barang Lazada Express. Dari tangan pelaku, polisi menyita barang bukti berupa 4,92 gram sabu-sabu beserta timbangan, yang sudah terbungkus rapi oleh kertas sampul bewarna cokelat dan siap kirim. AN

Reporter: Adryan Novandia
Penulis: Adryan Novandia
Redaktur: Bobby Chandra
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500