Rilis kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Foto: M. Adam Isnan/Kriminologi.id

Bongkar Sindikat TKW, Bareskrim Tangkap Jaringan Arab dan Tiongkok

Estimasi Baca:
Kamis, 21 Des 2017 16:30:21 WIB

Kriminologi.id - Sebanyak tujuh orang ditangkap tim Direktorat Tindak Pidana Umum Badan Reserse Kriminal atau Bareskrim Polri terkait Tindak Pidana Perdagangan Orang atau TPPO. Tujuh pelaku ini merupakan jaringan internasional yang mengirimkan korbannya ke berbagai negaara antara lain Arab Saudi, Malaysia dan Tiongkok. 

Kepala Bareskrim Polri, Komisaris Jenderal Ari Dono Sukmanto, mengatakan ketujuh tersangka tersebut adalah Maslachah, Fatmawati, Ujang, dan Rofik yang merupakan jaringan Arab Saudi. Kemudian, Sulikah alias Sulis alias Melis, dan Achmad Yulyadi alias Bang Black dari jaringan Tiongkok. Terakhir Windi Hiqma Ardianti jaringan Malaysia. 

“Dari tujuh tersangka yang diringkus, terdapat korban sebanyak 196 orang dalam kasus tindak pidana perdagangan orang,” kata Ari Dono di Jakarta, Kamis, 21 Desember 2017.

Baca: Penyalur Tenaga Kerja Ditangkap karena Palsukan Identitas Calon TKW

Ari Dono menjelaskan, untuk jaringan Arab Saudi, tersangka Maslachah berperan sebagai penampung, mengirim, dan mengurus visa. Fatmawati perannya perekrut lapangan dan sponsor. Kemudian Ujang berperan sebagai calo pengurusan paspor.

Sedangkan jaringan Tiongkok, peran Sulikah sebagai pengirim dan pengurus visa, lalu Achmad Yulyadi berperan dalam pembuatan paspor. Terakhir pada jaringan Malaysia, Windi Hiqma Ardianti berperan sebagai Direktur PTKIS Sofia Sukses Sejati.

Terkait jaringan Arab Saudi, para tersangka merekrut korbannya untuk dikirim menjadi Tenaga Kerja Indonesia atau TKI. Sindikat ini menggunakan visa ziarah untuk 39 korbannya yang berasal dari daerah Jawa Barat dan Nusa Tenggara Barat.

Baca: Bareskrim Ungkap Perdagangan Orang ke Cina

"Mereka diiming-imingi gaji US$ 250-300 per bulan. Jalur yang digunakan untuk menyelundupkan korban melalui Bandara Juanda ke Pontianak. Kemudian ke Entikong untuk diberangkatkan ke Miri dan Serawak. Lalu ke Kuala Lumpur," kata Ari Dono.

Untuk jaringan Tiongkok, kata Ari, Sindikat ini mengiming-imingi kepada 5 korbannya untuk diberangkatkan ke negeri tirai bambu itu sebagai TKI. Di sana, mereka dijanjikan bekerja sebagai pembantu rumah tangga. 

"Jaringan ini menggunakan izin visa wisata untuk korbannya. Akhirnya Kepolisian Tiongkok mengamankan dan menahan mereka sebagai TKI ilegal," ucapnya.

Sementara jaringan Malaysia, Ari menambahkan, lebih parah lagi. Korban ditelantarkan selama dua hari. Sindikat ini mengiming-imingi korbannya dengan gaji 900 Ringgit per bulan dan berbagai fasilitas kerja. Dari sindikat ini sebanyak 152 anak-anak tamatan SMK menjadi korban. Umumnya, mereka berasal dari Kendal, Jawa Tengah.

Baca: NTT Masuk Zona Merah Perdagangan Orang

"Tapi kemudian, para korban justru bekerja tidak sesuai dengan penawaran yang telah dijanjikan. Baik tempat kerja, gaji, hingga fasilitas yang didapat. Bukan itu saja, Polis Diraja Malaysia akhirnya menangkap mereka. Lalu menahannya selama 1 bulan dengan tuduhan TKI ilegal," ujarnya.

Dari penangkapan ini, barang bukti yang diamankan oleh petugas meliputi ijazah sekolah, kartu keluarga, paspor, visa, ponsel, buku rekening dan ATM, tiket pesawat, dan Surat Perjalanan Laksana Paspor.

Selain itu, Polisi juga menyita boarding pass, tiket elektronik, foto kopi akte kelahiran, foto kopi Surat Keterangan Hasil Ujian, komputer, kendaraan roda empat, pakaian kerja, serta dokumen perjanjian kerja.

Baca: Dua Pemilik Panti Pijat Jadi Tersangka Perdagangan Orang

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat Undang-undang No. 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, Dan atau Pasal 102, serta Pasal 103 Undang-undang RI No. 39 Tahun 2004 tentang penempatan dan perlindungan tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Dengan ancaman hukuman maksimal 10 dan atau 15 tahun penjara dan denda maksimal Rp 600 juta dan atau Rp 15 miliar.

Ari mengatakan, selain melanggar Undang-undang Indonesia, jaringan itu juga melanggar regulasi Internasional. Salah satunya protokol dari Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).

Sementara itu, sepanjang tahun 2017, Satgas TPPO Dittipidum Bareskrim Polri telah berhasil mengungkap perdagangan orang sebanyak 21 perkara. Dengan berbagai macam modus. Mulai dari menyalahgunakan visa Umroh, Wisata, Ziarah, dan melalui jalur - jalur ilegal lainnya. Para tersangka yang telah terjerat sebanyak 30 orang. Lalu total korban yang berhasil diselamatkan sebanyak 1083 orang yang terdiri dari 1078 perempuan dan 5 anak. TD

KOMENTAR
500/500