Ilustrasi Penangkapan, Foto: Pixabay

Curi dan Racik Obat untuk Dijual, Perawat Honorer Diringkus

Estimasi Baca:
Senin, 27 Nov 2017 15:35:40 WIB

Kriminologi.id - Seorang perawat di salah satu rumah sakit pemerintah di Kabupaten Banyumas diringkus Petugas Satuan Reserse Narkoba Kepolisian Resor Banyumas, Jawa Tengah, lantaran menyalahgunakan obat-obatan. Perawat berinisial ADP itu mengambil obat-obatan di tempat kerjanya untuk diracik dan kemudian dijual kembali.

"Penangkapan terhadap tersangka ADP berawal dari informasi masyarakat yang menyebutkan sering terlihat aktivitas mencurigakan di sebuah rumah kos yang yang berlokasi di daerah Sokaraja," kata Kapolres Banyumas AKBP Bambang Yudhantara Salamun, Senin, 27 November 2017.

Baca: Gagal Ajarkan Ilmu Kebal, Sang Guru Diburu Polisi

Ia mengatakan berdasarkan laporan tersebut, pihaknya segera melakukan penyelidikan dan penindakan sehingga mendapati penghuni rumah kos berinisial ADP yang merupakan oknum perawat.

Di rumah kos itu petugas menemukan obat-obatan yang mengandung narkotika dan psikotropika. Bambang menambahkan, obat-obatan tersebut diambil oleh ADP dari tempat kerjanya dan digunakan di rumah kos bersama teman-temannya.

"Kami sudah berkoordinasi dengan rumah sakit tempat ADP dan memang sudah ada kecurigaan terhadap orang ini," katanya.

Tersangka dan teman-temannya belum sempat menjual obat itu karena masih mencoba efeknya terlebih dahulu.

"Berdasarkan pengakuan ADP ada empat orang tapi saat kami tangkap hanya ada satu orang di situ. Teman-temannya merupakan orang biasa, bukan perawat," kata Bambang.

Ia mengatakan dari beberapa jenis obat-obatan yang ditemukan di rumah kos itu, dua di antaranya mengandung narkotika golongan I sedangkan lainnya psikotropika. Obat-obatan yang mengandung narkotika itu berbentuk cairan untuk disuntikkan ke badan.

"Jadi obat-obatan itu dikonsumsi sendiri untuk mengetahui efeknya, setelah itu mungkin dipasarkan," katanya.

Baca: Pria Muda Tewas Diduga Bunuh Diri di Ruteng

ADP telah bekerja sebagai perawat dengan status tenaga honorer selama tujuh tahun, sedangkan pihak rumah sakit dalam beberapa bulan terakhir mengakui adanya kekurangan stok obat-obatan namun belum bisa membuktikan.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, tersangka dijerat dengan Pasal 114 ayat 2 juncto Pasal 112 ayat 2 juncto Pasal 127 ayat 1 huruf a Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan Pasal 60 ayat 2 juncto Pasal 62 UU Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika dengan ancaman hukuman di atas lima tahun penjara karena melakukan penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang.

"Kemudian untuk lain-lainnya (penggelapan), kami akan koordinasikan dengan rumah sakit. Kalau mereka melaporkan, akan kami tindak lanjuti," katanya. AN

Penulis: Adryan Novandia
Redaktur: Reza Yunanto
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500