Ilustrasi penipuan. Foto: Unsplas.com

Gara-gara Nama Marga, Eiko Ditipu Rp 62 Juta oleh Pria Ngaku Kapolsek

Estimasi Baca:
Rabu, 11 Apr 2018 18:30:14 WIB

Kriminologi.id - Kesamaan nama keluarga (marga) rupanya menjadi celah bagi tiga pria untuk menipu Eiko Sihombing. Tiga orang pria berhasil memperdayai Eiko setelah mengetahui seluk-beluk keluarganya.

Dari hasil penipuan tersebut, pelaku berhasi menguras uang korban sebanyak Rp 62  juta. Kebetulan, tiga pelaku yakni TM (51), RM (42) dan ES (49) juga berasal dari suku Batak.

Awalnya, pelaku mencari calon korban yang beralamat dekat dengan pelaku melalui internet. Langkahnya semakin mudah setelah berhasil mendapat informasi dari kakak kandung salah satu pelaku yakni TM, yang sudah terlebih dahulu mengenal Eiko.

Dari kakak kandungnya, TM cukup mengetahui informasi dan silsilah keluarga Eiko yang bermarga Sihombing.

Untuk memuluskan langkahnya, TM mengaku menjabat sebagai Kapolsek di daerah Papua. Kepada Eiko, TM mengaku akan dimutasikan ke Polsek Cileungsi-Bogor. Dan apabila ditarik garis lurus keturunan, maka korban merupakan adik dari ayah kandung pelaku sendiri. 

"Oleh karena itu, pelaku kemudian memanggil korban dengan sebutan 'bapa uda' (paman, red), tujuannya agar korban semakin percaya," ujar Wakil Direktur Ditreskrimum Polda Metro Jaya, AKBP Ade Ary Syam Indardi Ade di Polda Metro Jaya, Rabu, 11 April 2018.

Setelah Eiko terpancing, TM mengaku jika setelah dimutasi dirinya akan membeli rumah di wilayah Kota Wisata Cibubur. Ia kemudian meminta bantuan uang Rp 10 juta kepada Eiko untuk mengambil sertifikat rumah dari kantor notaris. 

Mengingat TM masih keluarganya, Eiko langsung percaya dan menyetorkan biaya tersebut ke rekening bank CIMB Niaga atas nama Andes Mustikasari. Ade Ary menambahkan, kepada Eiko, TM mengatakan jika seorang rekannya nanti akan menghubungi korban untuk membahas sertifikat rumah yang sudah dipesan oleh TM.

"Karena mengaku masih bertugas di Papua, pelaku (TM) mengaku bahwa nanti akan ada orang yang menghubungi korban (Eiko) dan memberikan konfirmasi bahwa rekan pelaku tersebut yang akan menunjukkan sertifikat rumah yang sudah dipesan oleh pelaku," ujarnya.

Orang yang berperan mengaku rekan TM tersebut ialah pelaku kedua berinisial RM. Ketika menghubungi Eiko, RM menggunakan dialek Jawa. RM mengatakan jika biaya untuk mengambil sertifikat rumah masih kurang sekitar Rp 22 juta. Ia lalu meminta Eiko untuk membayar uang yang disebutkan.

Karena merasa Eiko belum menunjukkan kecurigaan sama sekali, TM kembali melancarkan tipu muslihatnya. Ia mengatakan kepada Eiko jika barang-barang yang akan dipindahkannya dari Papua tertahan di Pelabuhan Tanjung Priok. TM kembali meminta bantuan Eiko untuk membayar  "uang pelicin" sebesar Rp 30 juta. Karena belum curiga, Eiko mengirimkan uang ke rekening BCA atas nama Deo Novanda sesuai permintaan TM. 

Pada hari berikutnya, TM berdalih kepada Eiko bahwa dia akan membeli 1 unit motor Harley Davidson dari rekannya berinisial ES seharga Rp 750. TM kemudian menawarkannya kembali kepada Eiko dengan harga sekitar Rp 250 juta. TM pun meminta agar Eiko membayar uang muka agar motor tersebut tidak dijual ke orang lain.

Akal bulus TM mulai tercium di sini setelah mendengar harga sepeda motor Harley Davidson tersebut. Eko menilai harga tersebut sangat tidak wajar. Eiko kemudian menyadari bahwa ternyata ia telah ditipu oleh TM, RM dan ES.

Ternyata semua uang yang sudah disetorkan Eiko selama ini dipegang oleh pelaku ketiga, ES. Mereka pun membagi hasil. TM mendapatkan sekitar Rp 38 juta, RM mendapatkan sekitar Rp 6,2 juta, dan ES mendapatkan bagian sekitar Rp 12 juta.

Menurut Ade Ary, Eiko adalah korban yang kesekian aksi ketiga pelaku. Diduga pelaku sudah melakukan aksinya sekitar 2 tahun terakhir dengan jumlah korban mencapai 20 orang. 

ATas perbuatannya, tiga pelaku dijerat Pasal 378 KUHP dengan ancaman hukuman pidana penjara paling lama 4 tahun. MG

Reporter: Erwin Maulana
Penulis: Marselinus Gual
Redaktur: Reza Yunanto
KOMENTAR
500/500