Ilustrasi Perdagangan Orang. Ilustrasi: Kriminologi.id

Iming-iming Magang Keluar Negeri Jadi Modus Baru Perdagangan Orang

Estimasi Baca:
Selasa, 3 Apr 2018 16:23:57 WIB

Kriminologi.id - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan, aksi kejahatan melalui modus penawaran magang palsu di sekolah kejuruan dan disertai praktik eksploitasi merupakan bagian dari kategori tindak pidana perdagangan orang (TPPO) atau trafficking.

Para pelajar sekolah kejuruan diberikan tawaran untuk bekerja di luar negeri seperti Malaysia dengan tindak eksploitasi yang kejam. KPAI menyebut, penawaran magang keluar negeri merupakan modus baru yang digunakan pelaku.

Ai Maryati Solihah, Komisioner KPAI bidang Trafficking dan Eksploitasi anak menyampaikan, berdasarkan hasil data sementara per 26 Maret 2018, korban trafficking berjumlah 600 orang di Jawa Tengah dan kiriman dari NTT sejak 2009.

Ai menjelaskan, menurut Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Jawa Tengah, saat ini jumlah korban mencapai total 138 orang yang terdiri atas 86 korban dari NTT dan Jawa Timur.

"Sedangkan 52 korban berasal dari SMK Kendal yang kini tengah disidangkan di PN Semarang," ujar Ai di kantor KPAI, Jakarta, Selasa, 3 April 2018.

Berdasarkan data Polda NTT Bidang Trafficking, kata Ai, trafficking yang menyasar anak dari tahun 2016 sampai 2018 mencapai 38 kasus secara keseluruhan di luar modus magang. Pelaku program magang palsu tersebut, lanjut Ai, sudah menjadi terdakwa yakni Windy selaku Direktur PT Sofia yang bekerja sama dengan PT Walet Maxim Birdnest milik Albert Tei di Selangor, Malaysia. 

Ai mengatakan, jumlah korban kejahatan ini terus meningkat setiap tahun. Sebagian besar korban adalah perempuan dan cukup banyak korban yang masih berusia anak.

KPAI sebelumnya menemukan Trend 2018 dalam Tindak Pidana Perdagangan orang (TPPO) dan eksplotasi anak ditemukan modus yang terbilang unik yaitu melalui "Program Magang Palsu Keluar Negeri". 

Siswa sekolah kejuruan merupakan kelompok baru yang rentan menjadi korban perdagangan orang. Mafia perdagangan orang menjadikan mereka sasaran dengan iming-iming magang ke luar negeri. 

Diduga kuat, sindikat perdagangan orang kerap beroperasi di berbagai sekolah kejuruan di NTT dan Jawa Tengah itu menjalankan aksinya dengan modus merayu para siswa untuk diberangkatkan ke luar negeri secara mudah, tanpa sertifikasi kompetisi alias pelatihan, menggunakan paspor dengan visa kunjungan, serta tanpa kartu tenaga kerja luar negeri. 

Ditemukan kasus, dimana para siswa yang awalnya dijanjikan magang di perusahaan elektronik sesuai keahlian kejuruannya, ternyata dipekerjakan di kilang walet Maxim Birdnest milik Albert Tei di Selangor, Malaysia. 

Anak-anak tersebut mengalami eksploitasi karena harus  bekerja lebih dari 18 jam sehari dengan gaji minim dan potong gaji bila mereka sakit. 

"Dan ironis nya pihak sekolah dan orang tua siswa pun sempat merasa bangga bahwa anaknya bisa magang di luar negeri. Ya itu karena mereka belum tahu saja kalau anak-anak mereka jadi korban," tuturnya. MG

KOMENTAR
500/500