Sertifikat tanah. Foto: Ist/Kriminolo.ig

Janjikan Keuntungan Rp 1,5 M, Pelaku Penipuan Gasak Rp 9 M

Estimasi Baca:
Selasa, 21 Ags 2018 10:05:22 WIB

Kriminologi.id - Seorang wanita bernama Sumiati menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Denpasar, Bali, karena melakukan penipuan setelah mendapat pinjaman uang sebesar Rp 9 miliar. Pelaku mengiming-imingi korban dengan sistem bagi hasil.

Jaksa penuntut umum (JPU) Paulus Agus Widaryanto dalam persidangan di Denpasar, mengatakan terdakwa terbukti menipu korban Muhammad Syaiful Anam Tohir dalam kasus peminjaman uang dengan jaminan sertifikat hak milik (SHM) Nomor 369 terhadap tanah seluas 250 meter persegi di Desa Tuban, Kabupaten Badung.

“Perbuatan terdakwa melawan hukum menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan tipu muslihat atau serangkaian kebohongan untuk menggerakkan orang lain agar menyerahkan sesuatu benda kepadanya atau memberi utang maupun menghapus utang yang melanggar Pasal 378 KUHP," kata Paulus.

Sebelum kasus ini masuk ke meja hijau, dalam dakwaan terungkap Sumiati awalnya meminjam uang kepada saksi bernama Ni Ketut Suparniti sebesar Rp 1,5 miliar dengan jaminan sertifikat hak milik (SHM) Nomor 369 Desa Tuban atas nama Haji Munarwah.

Setelah batas waktu pengembalian uang tiba, Sumiati yang tidak dapat membayar diperkenalkan oleh Putu Hendra Kusuma saksi dari pihak Muhammad Syaiful Anam Tohir agar mau membantu terdakwa untuk menyelesaikan utang terhadap Ni Ketut Suparniti.

Pada Maret 2016 terdakwa mulai menjalin komunikasi dengan korban Muhammad Syaiful Anam Tohir. Sedikit alasan untuk modal usaha dengan jaminan SHM, Sumiati meyakinkan Syaiful untuk kembali meminjam uang untuk modal usaha dengan disertai janji keuntungan Rp 1,5 miliar. Pengembalian uang pinjaman ini berlangsung selama 6 bulan. Sumiati juga sempat mengajak korban melihat tanah jaminan. 

Korban yang mulai tergiur dengan janji-janji terdakwa akhirnya memberikan pinjaman kepada terdakwa pada 24 Mei 2016 sebesar Rp 6 miliar yang dipotong Rp1,5 miliar sebagai keuntungan awal.

Namun, dalam jangka waktu yang dijanjikan, terdakwa belum juga mampu mengembalikan utangnya, sehingga Muhamad Syaiful Anam Tohir meminta agar sertifikat yang dijaminkan segera di balik nama atas namanya.

Karena tidak mau rugi, terdakwa kembali membuat kesepakan baru dengan korban yang dibuat pada 24 Oktober 2016, dimana perjanjian baru itu berisi bahwa terdakwa kembali mendapat pinjaman uang senilai Rp 900 juta, sehingga pinjaman total terdakwa adalah Rp 6,9 miliar.

Setelah jatuh tempo, terdakwa belum juga mampu mengembalikan utangnya dengan alasan tanah yang akan dijual belum mendapat pembeli. Dengan kembali beralasan kekurangan uang, terdakwa lagi-lagi meminjam uang kepada korban sebesar Rp 935 juta. Namun terdakwa kembali mangkir saat pinjaman harus dibayar.

Akibat tidak mampu membayar, korban meminta terdakwa membuat akta jual beli atas SHM tanah yang dijaminkannya, namun terdakwa tidak mau dan SHM yang dijaminkan terdakwa justru masih ditempati saksi Antar Abdulah. 

Penulis: Tito Dirhantoro
Redaktur: Achmad Sakirin
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500