Kasus Pembobolan Bank, Gaya Hidup Mewah Jadi Faktor Pendorong

Estimasi Baca :

Perampokan bank. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id - Kriminologi.id
Perampokan bank. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Kriminologi.id - Kasus Pembobolan Bank Mandiri dengan kerugian sebesar Rp 1,4 triliun oleh PT Tirta Amarta Bottling (TAB) memasuki babak baru. Penyidik telah menetapkan empat tersangka yang diduga terlibat pembobolan. 

Direktur Utama PT TAB, Rony Tedy, dan tiga tersangka lainnya adalah pegawai Bank Mandiri, yakni Surya Baruna Semengguk yang menjabat Commercial Banking Manager, Frans Eduard Zandra sebagai Relationship Manager, dan Teguh Kartiko Wibowo sebagai Senior Credit Risk Manager.

BACA: Tiga Pegawai Bank Mandiri Tersangka Pembobolan Rp 1,4 Triliun

Tiga tersangka yang merupakan orang dalam di Bank Mandiri tersebut berperan dalam mengusulkan pengajuan kredit PT TAB. Fenomena kasus pembobolan bank dengan melibatkan orang dalam sering terjadi.

Sebagaimana dikutip dalam berbagai media, Direktur Pengawasan Bank II Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Anung Herlianto menyebutkan sekitar 90-93 persen kasus pembobolan atau fraud perbankan yang terungkap melibatkan orang dalam.

Memperkuat pernyataan Anung tersebut, dalam buku elektronik berjudul A-Z of Banking Fraud 2016 disebutkan bahwa pembobolan yang dilakukan orang dalam atau internal fraud merupakan hal yang paling umum terjadi dan menjadi penyebab utama bank mengalami kerugian.

Sebanyak 32 persen kasus melibatkan pegawai dengan posisi manajerial menengah atau senior. Sementara 42 persen kasus melibatkan pegawai junior.

BACA: Kronologi Perusahaan Air Minum Bobol Bank Mandiri Rp 1,4 Triliun

Kriminolog Amerika bernama Donald R. Cressey sejak lama memperhatikan fenomena penipuan yang dilakukan orang dalam di sebuah institusi. Menurut Donald, ada tiga faktor pendorong seseorang melakukan tindak penipuan (fraud) dan perilaku tidak etis lainnya, yakni tekanan, kesempatan dan rasionalisasi.

Kasus pembobolan Bank Mandiri tergolong bagian dari penipuan. Adapun tiga faktor tersebut kemudian dikenal dengan Segitiga Penipuan atau Fraud Traingle.

Merujuk pada artikel Butler-Hansen, badan akuntan publik yang berbasis di Arizona, menjelaskan tiga faktor tersebut. Pertama faktor Tekanan, yang menyebabkan seseorang melakukan pembobolan. Tekanan ini bisa mencakup berbagai hal, gaya hidup mewah, adiksi alkohol atau obat-obat terlarang lainnya. 

Tekanan bsia bersifat personal atau profesional, namun hal ini timbul dari masalah keuangan yang signifikan di mana individu yang mengalaminya tidak dapat menyelesaikannya masalahnya melalui cara-cara yang sah.

Faktor kedua, Kesempatan yang menjadi modus melakukan pembobolan. Kesempatan biasanya tercipta karena lemahnya pengendalian internal, pengawasan manajemen yang buruk, atau melalui penyalahgunaan wewenang.

Kegagalan untuk menetapkan prosedur yang memadai untuk mendeteksi aktivitas penipuan juga meningkatkan kesempatan terjadinya penipuan.

BACA: Bank Mandiri Bobol Rp 1,4 Triliun, Ini Lima Modus Jahat Kredit

Dalam kasus pembobolan Bank Mandiri sendiri, posisi ketiga tersangka pegawai Bank Mandiri yang ada di tingkat manajerial menjadi faktor kesempatannya. Mereka menyalahgunakan wewenang mereka sebagai manajer sebagai kesempatan mereka untuk melakukan tindak penipuan.

Sebagaimana yang disebutkan dalam hasil Survei Fraud Indonesia 2016 yang dilakukan oleh Association of Certified Fraud Examiners (ACFE) Indonesia Chapter bahwa manajer merupakan jabatan yang paling banyak melakukan penipuan, yaitu sebanyak 40,3 persen.

Faktor ketiga Rasionalisasi merupakan pembenaran yang digunakan individu untuk menipu. Sebagian besar pelaku penipuan di tempat kerja adalah seorang pelanggar perdana, dan tidak memandang diri mereka sebagai penjahat, melainkan orang biasa dan jujur yang merupakan korban dari keadaan yang tidak menguntungkan.

Masih merujuk pada hasil Survei Fraud Indonesia 2016 ACFE Indonesia Chapter, sebanyak 67,8 persen pelaku penipuan merupakan pelanggar perdana, atau dengan kata lain tidak pernah dihukum sebelumnya. SM

Baca Selengkapnya

Home Investigasi Modus Kasus Pembobolan Bank, Gaya Hidup Mewah Jadi Faktor Pendorong

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan tulis komentar kamu